Home » » DI MADURA JUGA ADA 'MONAS'

DI MADURA JUGA ADA 'MONAS'

Written By Ratiz On on Senin, 03 Desember 2012 | 22.32

Di Pulau Madura terdapat Mercusuar Sembilangan. Dengan tinggi menjulang ke angkasa, wisatawan dapat melihat pemandangan cantik lautan dan pantai dari atas ketinggian. Inilah 'Monas' ala Madura. Penasaran?

Mercusuar Sembilangan 

Banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi di Pulau Madura, Jawa Timur salah satunya adalah Mercusuar Sembilangan. Mercusuar ini merupakan peninggalan Belanda.

Dari atas bisa kita lihat pemandangan Selat Sunda yang Indah. Madura oh Madura, seringkali kita terbayang dengan gambaran sebagai pulau gersang dan terpencil, orang-orang dengan perwatakan keras, suka melakukan carok mengerikan dan jadi objek lelucon jika mendengar kata Madura. Awalnya, saya pun punya bayangan yang sama tentang Madura.

Salah Satu pemandangan dari atas mercusuar 

Saat akan berangkat pertama kali ke sana akhir tahun 2007 lalu, saya ditugaskan untuk menjadi asisten peneliti bidang kesehatan dan pendidikan oleh salah satu lembaga penelitian di bawah UGM.

Sempat muncul perasaan was-was karena termakan pikiran-pikiran negatif tentang pulau yang dikenal sebagai Pulau Garam ini. Saya berkesempatan untuk masuk ke sebagian wilayah yang ada di Bangkalan, Sampang dan Pamekasan sebagai wilayah penelitian.

Pada tahun 2008, saya kembali ditugaskan ke sana. Kali ini yang jadi wilayah penelitian adalah seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Pamekasan.

Nama Sang Pendiri Tertera di Bagian Depan Mercusuar 

Saat itu juga, saya bisa merasakan berkunjung ke kabupaten paling timur di Madura yakni Sumenep. Penelitian mengharuskan saya untuk tinggal bersama dengan masyarakat Sumenep selama beberapa bulan. Dari pengalaman terjun langsung di lokasi, mengubah penilaian saya 180 derajat tentang pulau ini.

Ternyata Madura memiliki keindahan yang dibalut dengan keramahan orang-orangnya yang membuat saya selalu rindu untuk mengunjunginya kembali. Baiklah, saya mulai dari Bangkalan, kabupaten paling barat di Madura yang langsung berseberangan dengan Pulau Jawa.

Untuk menuju Bangkalan sangatlah mudah, bisa menggunakan kapal ferry atau melalui Jembatan Suramadu yang sekarang telah menghubungkan Surabaya dan Madura. Salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi di Bangkalan adalah Mercusuar Sembilangan yang ada di Desa Tanjung Piring, Kecamatan Socah.

Berawal pada suatu sore sehabis melakukan tugas penelitian, saya dan teman satu tim memutuskan untuk len jelen atau berjalan-jalan mengunjungi mercusuar ini. Kami berdelapan pun berboncengan dengan menggunakan empat sepeda motor. Tidak ada penjual tiket khusus di sini. Kami hanya menemui penjaga dan memberikan uang setiap orang Rp 3000.

Setelah itu kami pun diperbolehkan masuk ke dalam mercusuar. Ini merupakan salah satu dari sekian banyak warisan Belanda yang ada di Indonesia. Bangunan peninggalan Belanda memang terkenal kokoh. Terlihat juga dari mercusuar ini yang sudah berdiri hampir 1,5 abad sejak didirikan pada tahun 1879 di bawah pimpinan Z M Willem III yang namanya tertulis di badan mercusuar.

Sebagaimana mercusuar lainnya, Mercusuar Sembilangan digunakan sebagai alat pandu kapal yang akan masuk pelabuhan. Dahulu katanya kapal-kapal Belanda melintas melalui Selat Madura untuk bersandar di Tanjung Perak. Saat ini pun tampaknya fungsi mercusuar masih sama ditambah fungsi lain sebagai tempat wisata. Pemandangan di sekitar mercusuar masih tampak asri.

Mengisyaratkan kalau belum terlalu banyak orang yang berkunjung ke sini. Kita juga bisa menaiki puncak mercusuar dengan tangga-tangga yang terbagi menjadi 16 lantai. Lantai-lantainya terbuat dari plat-plat baja yang disambungkan dengan baut ukuran besar. Di setiap lantai juga ada jendela yang memungkinkan untuk melihat pemandangan di luar mercusuar. Kombinasi pemandangan yang terlihat dari setiap lantainya pun berbeda-beda. Badan mercusuar juga terbuat dari campuran logam yang kuat.

Jika kita pukul-pukul atau ketika ada angin kencang akan langsung terdengar suara yang menggema di seluruh bagian dalam mercusuar. Bikin merinding apalagi untuk orang yang takut ketinggian seperti saya. Sampai di puncaknya, hati berdecak kagum melihat pemandangan pesisir Selat Madura yang indah. Ada semacam piringan plat baja yang dibuat mengelilingi bagian puncak mercusuar. Dari situ kita bisa menikmati pemandangan sekeliling dari ketinggian.

Di puncak juga kita bisa temukan lampu berukuran besar yang masih digunakan untuk keperluan memandu kapal. Ups! ternyata di bawah pringan ini tidak ada penyangga lain. Jika piringan jebol, sudah tentu akan langsung jatuh ke bumi dan kemungkinan besar mengahadap Sang Pencipta. Tiba-tiba muncul pikiran itu di kepala saya yang takut akan ketinggian. Meskipun baja itu kuat tetap saja saya merasa takut. Tanpa disadari kaki saya terasa mulai kaku dan kepala pun sedikit berkunang-kunang seperti mau jatuh rasanya.

Apalagi ketika teman-teman menakuti saya dengan berloncat-loncat yang membuat piringan baja bergetar. Alhasil, saya pun langsung berlari kembali ke bawah untuk mengamankan diri. Ya, buat yang takut ketinggian, persiapkan hormon adrenalin Anda. Lumayan tinggi mercusuarnya hampir 60 meter, pastinya lebih tinggi dari papan loncat indah yang biasa ditemui di kolam renang.

Teman-teman tertawa puas melihat tingkah saya berlari seperti anak kecil. Namun, tak peduli yang penting selamat pikir saya. Sampai di bawah saya menuju ke pantai yang ada di situ. Kita bisa menyusuri batu-batu yang tampaknya sengaja disusun di tepi pantai. Tak kalah indah, ada hutan-hutan bakau yang eksotis bisa kita nikmati di situ. Atau juga, melihat tingginya mercusuar dari kejauhan.

Berdasar cerita seorang Madura yang saya temui di situ, kadang ada orang tua yang mengajak anak-anaknya berkunjung ke mercusuar ini. Orang tua tersebut berkata pada anak-anaknya, "Tuh Monas dek, Monasnya Madura". Ya, sebelum bertekad mengadu nasib di Jakarta dan melihat Monas, diperkenalkan dulu dengan Monas yang ada di tanah kelahirannya. Setelah puas, kami pun memutuskan untuk pulang ke base camp penelitian kami.

Sebetulnya lebih indah jika kita menghabiskan waktu di situ hingga terbenam matahari. Dari ketinggian mercusuar kita bisa melihat mahakarya Sang Pencipta yang mengagumkan. Sayang, waktu itu kami memutuskan pulang karena letak base camp kami yang lumayan jauh dari situ. Jarak mercusuar membutuhkan waktu seitar setengah jam lebih dari Alun-Alun Bangkalan.

Kita bisa menyusuri Jalan Kyai Haji Kholil, kemudian mengikuti penunjuk jalan menuju Kecamatan Socah. Setelah sampai Socah, kita bisa bertanya-tanya di mana Desa Tanjung Piring dan letak mercusuar. Jika dari Surabaya perjalanan terasa lebih menyenangkan. Sekarang sudah bisa kita gunakan Jembatan Suramadu. Sesampainya di daratan Madura yang berada di ujung barat Tol Suramadu kita bisa tanya jalan menuju Socah, kemudian Desa Tanjung Piring tempat berlokasinya mercusuar.

Di sepanjang jalan setelah keluar dari Tol Suramadu, kita juga bisa menemukan penjual oleh-oleh khas Madura seperti ikat kepala Madura (odheng), baju Sakera (kaos merah putih) dan gantungan kunci clurit yang dijual dengan harga terjangkau. Ada juga penjual makanan khas Madura seperti rujak cingur, ikan asin kering atau rengginang laron yang bisa kita bawa pulang untuk oleh-oleh. Tunggu apa lagi.

Ayo segera nikmati pengalaman menantang angin dengan sepeda motor di atas Selat Madura dari Jembatan Suramadu dan pacu adrenalin di ketinggian dari Mercusuar Sembilangan, Monasnya Madura.

sumber