Home » , » DEMI TERNAK, TIDAK MAU DIEVAKUASI

DEMI TERNAK, TIDAK MAU DIEVAKUASI

Written By Ratiz On on Sabtu, 15 Februari 2014 | 19.41

Ironis. Bencana di depan mata dan kapan saja nyawa menjadi taruhannya, namun sebagian warga Dusun Ngramban Desa Banturejo, menolak dievakuasi.


Mereka memilih tetap tinggal di rumahnya, karena takut harta bendanya hilang dicuri. Selain itu, mereka juga tidak mau meninggalkan ternaknya. ‘’Siapa yang mau ngasih makan sapinya mas,’’ kata Suwaji salah satu warga Dusun Ngramban yang tidak mau dievakuasi tersebut.

Musadi, warga lainnya justru dengan enteng menyebut, abu vulkanik ini hanya membuat beberapa atap rumahnya rusak. Namun, tidak sampai membahayakan keselamatan jiwanya.

‘’Kami masih melihat kondisi gunung Kelud belum terlalu membahayakan. Makanya kami memilih tinggal. Lagian peliharaan sapi saya lumayan banyak,’’ akunya sambil tertawa.

Meski untuk keluarga lainnya, dia mengaku sudah mengungsikan terlebih dahulu. ‘’Kalau nanti meletus lagi, saya dan anak saya akan mengungsi pakai motor,’’ katanya. Praktis, berbagai rayuan diberikan, namun mereka ngotot tinggal. Meski petugas sudah meyakinkan jika harta benda mereka aman. Petugas, akan selalu patroli dan menjaga kawasan tersebut.

Dilain tempat, di Dusun Klangon Desa Pandansari, warga baru mau mengungsi setelah petugas berulang kali melakukan pendekatan. Meski sebagian warga lainnya menolak untuk diungsikan.

Padahal kondisi di dusun ini sudah lumpuh total. Tebal debu vulkanik di jalan saja sekitar setengah meter. Kondisi sebagian rumah warga, atapnya ada yang ambruk sampai bolong.

‘’Lima warga yang tidak bisa jalan (lumpuh), terpaksa kami gendong. Sisanya memilih menetap karena harta bendanya,’’ jelas Solihin petugas dari TNI yang membopong seorang kakek yang lumpuh itu.

Saimin (74) warga Dusun Klangon Desa Pandansari mengungkapkan, dampak meletusnya gunung Kelud paling parah memang tahun ini. Sebelumnya tiga kali meletus tidak separah saat ini.

‘’Warga sini sudah terbiasa dengan abu vulkanik akibat letusan gunung Kelud. Sekarang paling parah. Makanya kami memilih mengungsi sementara waktu,’’ ungkapnya sembari dinaikkan ke truk evakuasi.

Tercatat, sampai Jumat sore petugas terus melakukan evakuasi para warga yang terkena dampak abu vulkanik Gunung Kelud itu. Sejauh ini sudah ada sekitar 9117 yang berhasil dievakuasi oleh petugas, rincinya, 5876 warga mengungsi di Pujon, dan 3241 mengungsi di daerah Batu.

Di Kota Wisata Batu, titik utama lokasi pengungsian berada di GOR Ganesha. Lainnya di Gedung Graha Wangsa Kelurahan Sisir, gedung Kesenian, gedung Bima Sakti, SDK Sang Timur, gedung Tapak Liman, kantor Kelurahan Songgokerto, kantor Kecamatan Batu, KUD Batu, Desa Pesanggrahan, PBI Sidomulyo, Songgoriti, Balai Desa Sumberjo, Balai Dukuh Songgoriti, Kelurahan Ngaglik, SDN Pesanggrahan, Pondok Nurul Qolby, Balai Desa Gunungsari, Kelurahan Temas, Kantor Kecamatan Junrejo, desa Pandanrejo dan beberapa rumah penduduk.

Pengungsi langsung mendapat perhatian pemerintah Kota Batu, dipimpin langsung Wakil Wali Kota Batu, Punjul Santoso. ‘’Lokasi pengungsian kami sediakan. Begitu juga dengan berbagai fasilitas harus dilengkapi sehingga kebutuhan para pengungsi juga tercukupi,’’ ungkap Punjul Santoso disela-sela memimpin rapat koordinasi antar SKPD untuk penanganan pengungsi.

Fasilitas itu antara lain petugas medis dan obat-obatan, masker, bahan makanan, air bersih, dapur umum dan para pemasak. Para pengungsi harus mendapatkan fasilitas itu agar kebutuhan tetap terjamin meski jauh dari rumah.

’’Dinkes menurunkan para dokter, perawat hingga obat-obatan. Dinsosnaker menurunkan petugas tagana, petugas dapur umum, memberikan makanan. Sedangkan PDAM menyediakan air bersihnya. Begitu juga semua instansi yang terlibat harus bekerja keras ikut membantu penanganan pengungsi itu,’’ jelasnya.

Menurutnya, anggaran untuk penanganan sementara berasal dari Pemkot Batu meski pengungsi adalah warga Kabupaten Malang. Pemkot juga menggandeng berbagai pihak seperti instansi sekolah hingga PHRI untuk penanganan pengungsi, terutama akomodasi dan konsumsi.

Sementara itu siang hingga sore hari, bantuan mulai banyak mengalir. Bantuan itu antara lain bahan makanan, seperti mie isntan, sayur mayur, makanan ringan, bubur bayi, pembalut hingga masker.

"Hingga saat ini terus terang kami masih kekurangan masker. Masalah penyedia masker, apotik-apotik di Kota Batu sudah habis. Persediaan yang ada di Batu tidak mencukupi karena banyaknya orang yang datang," tambah dia.

Sedangkan bantuan lain, kata dia, selimut atau sarung dan pakaian layak pakai. Masalahnya, mayoritas pengungsi tidak mebawa pakaian, kain penghangat karena meninggalkan rumah secara tiba-tiba. Mereka sudah tidak berfikir membawa perbekalan ketika meninggalkan rumah untuk mengungsi. Begitu ada kendaraan evakuasi, mereka langsung naik kendaraan untuk mengungsi.