Home » , » KECANDUAN MAKANAN SAMA BURUKNYA DENGAN KETERGANTUNGAN NARKOBA

KECANDUAN MAKANAN SAMA BURUKNYA DENGAN KETERGANTUNGAN NARKOBA

Written By Ratiz On on Sabtu, 28 September 2013 | 14.54

Sebagian orang melarikan diri ke makanan saat sedang sedih. Menenangkan diri dengan banyak makan bisa menimbulkan kecanduan. Ternyata, sebuah survei mengungkapkan bahwa kecanduan makanan dan narkoba sama buruknya.


Survei terhadap 5.139 anggota Slimming World di Inggris menemukan bahwa perasaan 'high' karena konsumsi lemak bisa menjadi adiksi. Namun, dua dari tiga orang yang mengalaminya merasa dihakimi masyarakat seperti orang yang ketagihan narkoba.

Sebanyak 76% peserta surveipun membandingkan kelemahan mereka dengan hasrat pecandu terhadap rokok, alkohol, atau obat-obatan. Dari sini 55% partisipan yakin mereka mendapat 'energi' dari makanan favorit mereka.

Studi ini juga menunjukkan bahwa hampir seluruh orang (94%) yang disurvei menyantap makanan tinggi lemak untuk meningkatkan mood mereka. Namun 77% orang mengatakan bahwa bahwa meski terjadi peningkatan di awal, mereka merasa lebih buruk setelahnya.

Bahkan 83% peserta merasa gagal dan mengkritik diri sendiri karena tak bisa mematuhi diet. Selain itu, tiga dari empat orang merasa dibombardir oleh iklan-iklan junk food. Adapula 89% orang yang mengatakan dunia modern memudahkan mereka makan tak sehat.

Menurut Dr James Stubbs, spesialis riset dari Slimming World, kita tinggal di dunia yang mendorong orang-orang untuk bersantap tak sehat. Makanan tinggi lemak dan gula tersedia di mana-mana, membuat kita sulit mengabaikannya.

"Terbukti bahwa makanan tinggi lemak dan gula bikin ketagihan. Orang-orang merasa terjebak dengan ngidam, pemasaran yang agresif, dan mudahnya makanan tak sehat didapatkan," kata Stubbs.

Yang berbahaya, Stubbs berpendapat, adalah mudahnya kita masuk ke lingkaran setan. Saat down, kita mencari kenyamanan dalam makanan. Namun, kita kemudian merasa bersalah dan dihakimi karena telah kehilangan kendali diri.

"Perasaan gagal dan diadili inilah yang mempengaruhi harga diri. Kita kemudian mencari kenyamanan lagi dalam makanan, dan siklus tersebut terjadi terus-menerus," tutur Stubbs, seperti dikutip dari Daily Mail (20/08/13).

Stubbs menilai bahwa memiliki keterampilan dan pengetahuan untuk makan sehat serta kepercayaan diri untuk bertanggung jawab terhadap keputusan sendiri membuat makan makanan sehat lebih mudah. Surveipun menunjukkan bahwa 87% peserta percaya diri mempertahankan kebiasaan sehat ini di masa depan.

Tam Fry, juru bicara National Obesity Forum, mengatakan bahwa diperlukan batasan penggunaan bahan kimiawi untuk tambahan makanan. "Apakah makanan bisa bikin kecanduan masih menjadi kontroversi. Menurut saya iya," ia berargumen.

"Produsen menambahkan zat kimia dalam makanan. Setelah beberapa lama, Anda tak mendapatkan energi yang sama saat memakannya, jadi Anda menyantapnya dua kali lebih banyak," ujar Fry. [sumber]