Home » , » PEMBERIAN AIR SUSU IBU (ASI) DAPAT KURANGI GAGAP PADA ANAK

PEMBERIAN AIR SUSU IBU (ASI) DAPAT KURANGI GAGAP PADA ANAK

Written By Ratiz On on Rabu, 14 Agustus 2013 | 20.13

Anak-anak yang diberi air susu ibu (ASI) saat bayi lebih mungkin untuk sembuh dari gagap dan kembali lancar bicara, demikian hasil satu studi di AS terhadap 47 anak yang mulai gagap pada usia dini. Studi itu, yang disiarkan pada Senin (5/8/13) di Journal of Communication Disorders, mendapati adanya "kaitan dampak-ketergantungan" antara ASI dan kemungkinan anak sembuh dari gagap. Anak yang diberi ASI lebih lama, lebih mungkin untuk sembuh.


Anak lelaki yang diberi ASI selama lebih dari setahun rata-rata memiliki seper-enam kemungkinan terserang gagap dibandingkan dengan anak lelaki yang tak pernah diberi ASI. "Studi kami menambahkan bukti yang menyatakan bahwa pemberian air susu ibu dapat memberi pengaruh besar pada perkembangan syaraf," kata mahasiswa doktoral University of Illionis, Jamie Mahurin-Smith di dalam satu pernyataan.

"Meskipun itu bukan hal yang magis, pemberian ASI dapat membuat perbedaan mencolok pada anak, bahkan bertahun-tahun setelah penyapihan," tandasnya.

Para peneliti tersebut menyatakan asam lemak dasar yang ditemukan pada ASI seringkali tak terdapat di dalam susu bayi, terutama asam dokosaheksaenoat dan Asam arachidonic. Kandungan tersebut sekaligus dapat membantu menjelaskan mengapa masa pemberian ASI berkaitan dengan perkembangan bahasa dan otak anak yang lebih baik.

"Mungkin saja asupan asam lemak mempengaruhi ekspresi gen yang berkaitan dengan gagap," kata profesor ilmu pengetahuan pendengaran dan kemampuan berbicara University of Illionis Emerita Nicoline Ambrose.

Beberapa studi sebelumnya telah mendapati kaitan yang konsisten antara pemberian ASI dan perkembangan peningkatan kemampuan berbahasa. Studi di 1997 mendapati bayi yang diberi ASI selama lebih dari sembilan bulan memiliki risiko gangguan bahasa yang jauh lebih kecil ketimbang mereka yang diberi ASI selama masa yang lebih singkat. Sementara studi lain mendapati bayi yang diberi ASI, mempunyai kemampuan berceloteh (berbicara) pada usia lebih dini, yang menandakan ASI berperan penting pada perkembangan bahasa bayi.

"Kita selama bertahun-tahun telah mengetahui bahwa faktor genetika dan lingkungan hidup mempengaruhi gagap, tapi kita kurang tahu tentang variabel lingkungan hidup khusus yang ikut mempengaruhi," kata Mahurin-Smith. "Temuan ini dapat meningkatkan pemahaman kita mengenai kondisi gagap dan kesembuhan," tambahnya.(*/han)

IQ Anak Lebih Tinggi
Anak yang memperoleh air susu ibu (ASI) lebih lama, memiliki pemahaman lebih baik dalam bidang bahasa dan intelijen (IQ) lebih tinggi dalam hidupnya kelak. Para peneliti, seperti dimuat dalam jurnal JAMA Pediatrics tersebut mempelajari lebih dari 1.300 anak yang dilahirkan oleh perempuan yang ikut dalam satu proyek penelitian yang disebut Viva.

Proyek ini dirancang untuk mengkaji fakta pra-kelahiran dalam hubungan dengan kehamilan dan kesehatan anak. Masing-masing anak menjalani penilaian kognitif ketika mereka berusia tiga dan tujuh tahun. "Kami mendapati makin lama pemberian ASI dan makin eksklusif pemberian ASI berkaitan dengan pemahaman bahasa yang lebih baik pada usia tiga tahun dan IQ lebih tinggi verbal serta non-verbal pada usia tujuh tahun," tulis para peneliti itu.

Mereka melaporkan manfaat pemahaman bahasa pada usia tiga tahun sebanyak 0,21 poin per bulan pemberian ASI dan manfaat IQ pada usia tujuh tahun 0,35 poin per bulan pada skala verbal dan 0,29 poin per bulan pada skala non-verbal. Dengan kata lain, pemberian ASI pada bayi pada tahun pertama kehidupan mereka diperkirakan akan meningkatkan kemampuan pemahamannya sebanyak 2,5 poin dan IQ sampai empat poin.

Para peneliti itu menyimpulkan temuan tersebut dengan memberikan saran nasional dan internasional guna mendorong pemberian ASI eksklusif sampai usia enam bulan dan kelanjutan pemberian ASI sampai setidaknya anak berusia satu tahun.

Di dalam editorial yang menyertai temuan itu, Dimitri Christakis dari Seattle Children`s Hospital Research Institute, mengatakan kebanyakan masalah pemberian ASI kepada bayi saat ini bukan terletak pada perempuan yang tak memulainya (memberikan ASI), tapi yang menjadi masalah adalah mereka tidak melanjutkannya. Di Amerika Serikat, secara keseluruhan sebanyak 70 persen perempuan memulai pemberian ASI, namun hanya 20 persen yang bertahan sampai enam bulan.

Christakis mendesak pemilik tempat kerja agar memberi kesempatan dan ruang buat ibu untuk menggunakan pompa ASI dan pemberian ASI di tempat umum. "Memberikan ASI tak boleh lagi dianggap sebagai perbuatan tercela," katanya.