Home » , , » KUMPULAN CERITA DEWASA 2013

KUMPULAN CERITA DEWASA 2013

Written By Ratiz On on Minggu, 23 Juni 2013 | 16.08

KUMPULAN CERITA DEWASA 2013


MENONTON ISTRI BERHUBUNGAN SEKS DENGAN PRIA LAIN

Gara-gara menonton VCD porno, pria ini tertarik melakukan hubungan seks bertiga. Ternyata istrinya mau. Untuk selanjutnya istri mau memilih sendiri pria tambahannya. Celakanya, setelah itu sang istri meminta cerai karena menganggapnya mengalami kelainan seksual. Apakah pria ini mengalami kelainan?

"Saya umur 35 tahun, sedang mengalami masalah. Istri meninggalkan saya, menuntut cerai. Istri umur 28 tahun. Asal mulanya tidak ada masalah. Kami punya satu anak, ekonomi cukup, bahkan lebih baik dibandingkan kebanyakan orang di negara ini. Soal seks juga biasa saja. Istri kelihatannya bisa puas, saya juga.

Beberapa bulan lalu kami melakukan sesuatu yang bagi banyak orang mungkin aneh. Kami iseng nonton VCD porno. Lalu, iseng saya tanya kepada istri, apakah dia mau berhubungan dengan dua pria. Di luar dugaan, dia menjawab mau.

Lalu, saya mencari iklan di koran yang menawarkan pijat untuk pasutri. Selanjutnya berlangsunglah hubungan seks antara istri dan pria pemijat itu. Saya melihat mereka berhubungan meskipun ada perasaan kecewa karena istri mau melakukannya. Setelah pria itu pergi, saya dan istri melakukan juga.

Peristiwa itu jadi alasan istri untuk minta cerai. Istri mengatakan, saya mengalami kelainan. Saya bingung karena waktu saya tanya, istri mengatakan mau. Bahwa waktu saya tanya mau lagi atau tidak, dia bilang mau, tapi dia sendiri yang cari prianya.

Apa saya memang mengalami kelainan seks? Kalau ya, apakah istri tidak mengalami kelainan juga? Setelah peristiwa itu, kami biasa saja dalam berhubungan seks, sampai tiga bulan lalu istri menuntut cerai. Adakah orang lain yang melakukan seperti kami? Saya tidak mau cerai karena mencintai istri." TN, Semarang

Tak dapat dipastikan
Kalau istri menganggap Anda mengalami kelainan seks, berarti dia juga mengalami kelainan seks. Bukankah istri setuju, bahkan berhubungan seks dengan pria itu walaupun Anda yang memulai?

Saya tidak berani mengatakan Anda mengalami kelainan seksual hanya berdasarkan surat Anda di atas. Kalau Anda mengalami kelainan seks berarti Anda harus terus atau sering melakukan perbuatan itu karena Anda hanya akan merasakan kepuasan kalau melakukan itu. Anda tidak seperti itu, bukan?

Di pihak lain, justru istri yang mengatakan mau melakukan lagi asal dia yang mencari prianya. Jadi, saya tidak akan mengatakan apakah Anda atau istri mengalami kelainan seks hanya berdasarkan cerita singkat Anda. Namun, saya ingin katakan bahwa perbuatan itu dapat menjadi suatu masalah bagi hubungan pribadi Anda dan istri.

Beberapa kemungkinan dapat terjadi akibat perbuatan itu. Pertama, Anda menganggap istri bukan istri yang setia dalam hal seks. Kedua, mungkin Anda merasa tak mampu seperti pria itu kalau istri Anda lebih puas dengan dia daripada Anda. Ketiga, mungkin fungsi seksual Anda jadi terganggu kalau Anda terus teringat adegan istri berhubungan dengan pria itu. Keempat, risiko penularan infeksi kelamin.

Saya tidak tahu, bahkan menduga pun tidak mampu, mengapa istri tiba-tiba meminta cerai dengan alasan Anda mengalami kelainan seks. Padahal, dia menyetujui dan melakukan hubungan seks dengan pria itu. Kecuali kalau sebenarnya istri tidak bersedia, tapi karena takut kepada Anda, akhirnya dia terpaksa melakukan perbuatan itu.

Kalau Anda bertanya apakah ada orang lain yang melakukan perbuatan seperti itu, jawaban saya "ada" walaupun tidak dengan pria pemijat yang mengiklankan diri. Perubahan persepsi tentang seks telah mengubah perilaku seksual manusia. Perilaku seksual yang dulu sulit diterima, kini mungkin saja terjadi, tentu dengan segala risikonya.

TAMAT............

CERITA : ISTRIKU JADI TUKANG PIJAT!


Merelakan istri kerja di pantai pijat, harus berani membunuh rasa cemburu. Tapi rupanya Sudar, 35, justru selalu membayangkan Salamah, 23, istrinya tengah “dipijit” ganti oleh pelanggannya. Ketika kadar kecemburuan tersebut sudah demikian over dosis, sopir rumah produksi ini tega menghajar istrinya sampai babak belur.

Hadits Nabi mengatakan: layanilah ajakan tidur suami, meski istri sedang di dapur sekalipun! Bagi kebanyakan kaum lelaki, termasuk para pelaku poligami tentunya, maunya memang begitu. Baginya, istri ideal adalah yang hanya mamah dan mlumah untuk suami. Maksudnya, istri cukup di rumah makan dan tidur. Tapi bila suami ‘butuh” sewaktu-waktu, dia harus siap melayani di ranjang kapan saja dan di mana saja, kalau perlu sambil minum Coca Cola.

Cuma tak semua kaum suami bisa memuaskan idealismenya, karena masalah ekonomi tentu saja. Bila gaji sebulan hanya cukup dimakan 2 minggu, bagaimana kepala keluarga bisa membiarkan istri hanya mamah dan mlumah? Karenanya, lelaki macam Sudar dari Krobokan, Semarang Barat ini, terpaksa merelakan istrinya ikut bekerja cari tambahan. Maklumlah, gaji dia sebagai sopir rumah produksi sinetron, sangat tidak mencukupi untuk membiayai keluarga kecilnya. Percaya nggak, tiap habis bulan amplopnya sudah compang-camping terlalu banyak potongan. Istri di rumah tinggal menerima beberapa lembar ratusan merah.

Maunya Sudar sih, istrinya bekerja di tempat terhormat, misalnya jadi Gubernur Senior BI macam Miranda Gultom itu. Tapi karena ijasah Salamah hanyak SMA, akhirnya hanya diterima kerja di sebuah panti pijat. Di tempat ini yang dibutuhkan memang bukan otak, tapi otot. Maksudnya, jari jemari selalu kuat untuk memijat sejumlah pelanggan yang butuh pelayanan darinya. Adapun Salamah memiliki kelebihan wajah cantik, hal tersebut memang punya nilai tambah untuk menggaet pelanggan panti pijat.

Memang betul. Gara-gara kecantikan Salamah, pelanggan panti pijat “Driji Nggrathil” lebih memilih dipijat istri Sudar ini. Bagi kaum lelaki, jangankan hingga hubungan yang lebih khusus, baru dipegang-pegang wanita cantik saja, dadanya sudah serrr-serrr dan klenyer-klenyer. Maka bila pijitan Salamah sangat memuaskan, dia sering memperoleh tip dari para tamu, dari yang hanya Rp 10.000,- hingga Rp 50.000,-

Sebagai sopir bergaji kecil, melihat istrinya sering bawa pulang uang lebih, senang-senang saja. Namun di balik itu dia menangis dalam hati. Benarkah uang tersebut diperoleh secara wajar dan halal? Jangan-jangan pelaggan sampai berani memberi tip Rp 50.000,- karena setelah dipijit Salamah, dia diperkenankan ganti memijit tubuh Salamah pada bagian tertentu. Sungguh, untuk membayangkan yang lebih buruk lagi, Sudar tidaklah sanggup.

Pernah Sudar menyarankan istrinya berhenti bekerja, tapi jawab Salamah seperti Krisdayanti ketika diminta Anang Hermansyah untuk berhenti sebagai penyanyi: “Memangnya penghasilanmu cukup untuk membiayai anak istri?” Wah, tentu saja Sudar tak berkutik kena skak mat macam demikian. Akhirnya, jawaban yang muncul ya hanya macam Pak RW di sinetron Para Pencari Tuhan: “Anu, anu, wedus ki!”

Setelah punya penghasilan lebih gede dari suami, Salamah memang jadi suka menteng kelek (keras kepala). Segala saran dan nasihat suami tak digubris lagi. Tentu saja Sudar merasa diremehkan. Tak rela istrinya jadi medan bancakan lelaki lain, dia sekali lagi minta istrinya berhenti dari panti pijat. Ternyata Salamah bersiteguh. Gelaplah mata Sudar, saat naik motor langsung saja istrinya ditabrak hingga jatuh njengkelit (terpelanting). Sementara suaminya ngeloyor pergi, Salamah mengadu ke Polres Semarang Barat.

TAMAT...........

ADUH MAS, SAKIT


Pesta pernikahan mpok Lela dan mas Suratmo digelar secara meriah dengan adat Jawa mengikuti permintaan kekasihnya dan diadakan dirumah mpok Lela.

Mpok Lela sangat cantik dengan Kebaya Jawa berwarna putih dan menggunakan sanggul yang dihiasi kembang goyang dan ditutup dengan roncean bunga melati. Jam 9 malam acara dah selesai. Sang pengantin sehari digiring masuk ke kamar pengatin sama nyak en babenye mpok Lela.

"Udeh malem pade bobo ye." Kata Nyaknye Lela.

Lela dan mas Suratmo mesam mesem sambil mengangguk perlahan.

Nyak en babenye Lela keluar kamar pengantin tapi mereka buru-buru lari masuk kekamar mereka yang berada pas disebelah kamar pegantin.

Mereka langsung merapat ke dinding. Nyaknye en babenye gak mo ketinggalan untuk acara nyang satu ini. Dari sebelah terdengar suara .

"Dhik, buka aja bajunya, kan gerah." Kata mas Suratmo.
"Hm, aye malu mas." Jawab Lela
"Set dah anak gue malu...!!"
Dengan cepat nyaknye Lela bekep mulut suaminye.
"Stt.."
"Iye lupa.." Kata suaminya.

Mereka kembali mendengarkan apa yang terjadi dibalik dinding.
"Kok malu sih dhik? Kan kita sudah resmi." Kata mas Suratmo lagi.
"Hm, Mas juge dibuke jasnye." Jawab Lela.
"Iya, Mas mau buka. Adik juga ya."
"Mas, madep sono Lela malu..." Kata Lela lagi.
"Lela emang turunan loe Fatime. Pemalu, gue jadi inget malem pertama kite dulu." Kata suaminya Fatime.
"Abang." Kata Fatime malu.
"Udeh Bang kite dengerin aje." Kata Fatime.
"Dhik sini duduk dekat Mas. Masa jauh-jauhan." Kata mas Suratmo
"Iya Mas."
"Dhik, Mas bantuin buka ya sayang."
"Iye Mas, Pelan-pelan ye...." kata Lela.
"Bang, dimulai.."
"Iye.."

Wajah nyak en babenye Lela langsung gembira.
“Romannye kite bakal punye cucu cepet neh Bang.” Kata Fatime.
“Hooh. Aduh gue dah gak sabar mo nimang cucu.” Kata suaminya Fatime.
“Sttt! Diem Bang.” Kata Fatime.
“Dhik, bukainnya satu-satu ya. Biar gampang. Mas buka yang atas dulu ya.”
“Iye Mas. Yang atas aje dulu. Lela dah gak tahan. Senut-senut neh Mas.” Kata Lela manja.
“Siap Dhik. Mas pegang ujungnya yang bunder kecil.”
“Ahhhhhhhh.. Mas pelan-pelan nape.” Rajuk Lela
“Maaf ya Dhik.” Kata mas Suratmo
“Kagak nape-nape Mas, bikin ati aye ser-seran.” Jelas Lela.

Babenye Lela ngelap bibirnye yang udah penuh sama iler. Fatime makin rapet ke dinding plus dudukin guling.
“Wah dah beraksi neh si Atmo. Bise bikin anak kite ser-seran” seru babenye mpok Lela.
“Iye Bang. Anak kite kagak sale pilih suami.” Lanjut Fatime girang.
“Dhik , mas puter-puter ya biar bisa keluar dan gak sakit.” Kata mas Suratmo dengan lembut.
“Iye mas. Diputer-puter aje. Enak kok lagian aye kagak ngerase sakit. Hmmm….” Kata Lela sambil mendesah.
“Bentar dhik, bentar lagi neh. Yang satu dah bisa. Sini yang sebelahnya lagi. Bagus ya punya adhik. Mas suka, disimpen yang bener ya dhik.” Kata Mas Suratmo
“Aduhhhh!! Iya Mas” jawab Lela.

Fatime mengrenyitkan dahinya
“Kok disimpen ye Bang?” tanye Fatime kepada suaminya.
“Iye.. barang kali maksudnye jangan diobral. Make baju yang bener jangan kebuke-buke.” Jawab suaminya sok yakin.
“Iye..iye..!! Bener juge mantu aye.” Kata Fatime membenarkan jawaban suaminya.

Mereka kembali asyik mendengarkan malam pertama anak mereka.
“Mas, tolong buke yang dirambut aye dah gatel neh. Aye dah gak tahan.” Rajuk Lela.
“Iya Dhik, dari belakang aja ya bukanya biar gampang.” Kata mas Suratmo.
Suara tempat tidur berderit.

“Aduh Bang, model ape tuh bukenye dari belakang?” Tanya Fatime sambil garuk-garuk kepala.
“Model orang-orang sono kali.”
“Orang sono mane Bang?” Tanya Fatime lagi.
“Jah, orang nyang rambutnye pirang kayak habis maen layangan.” Jawab suaminya Fatime sekenanya.
Fatime merapatkan lagi kupingnya ke dinding kali ini dengan posisi nungging.
“Muach..”
“Ih Mas pake dicium segale rambutnye.” Kata Lela mesra.
“Wangi. Punya Dhik wangi sekali. Mas jadi bagaimana gitu. Rasanya jantung Mas mau copot. Bentar ya Dhik, ditahan ya kayaknya agak susah neh. Adik bantunin pegang ya. Biar mas bisa nemuin jalannya. Habis sempit banget. “ Kata mas Suratmo
“Mas, ahhhh…!!! Aduhhhh !!! Jangan keras-keras mas. Sakit, rambutnye ade nyang ketarik neh.” Jerit Lela.
Jakun babenye naik turun, Fatime sambil kipasan kayaknye gerah. Mereka pegangan tangan dengan sangat erat. Wajah mereka berharap-harap cemas.
“Mas masukkin lagi ya, Dhik. Mas tarik keluar terus Mas masukin lagi nantikan jadi gampang keluarnya sayang.” Jelas mas Suratmo.
“Iye Mas, masukin aje lagi kagak ape-ape ntar tarik keluarnye pelan-pelan ye mas.” Kata Lela.
“Uhg..!! Au..!! Hm…!! Acchhhh..!! ADUHHHHHHHH…!!!” Teriak Lela.
“Maaf Dhik, sakit ya. Mas elus-elus rambutnya ya. Mas dah tarik keluar kok. “
“Iye mas, aye dah agak legaan dikit.” Kata Lela.
“Mas lap keringatnya ya. Panas sayang? Dah siap buat yang kedua Dhik?” tanya mas Suratmo.
“Iye, aye dah siap Mas. Carenye kayak yang tadi ye Mas. Masukin terus tarik masukin lagi terus tarik biar keluarnye enak.” Pinta Lela.
“Set dah anak gue pinter bener yak. Loe ajarin ye ?” tuduh suaminya ke Fatime.
“Lah Abang. Aye kagak ngajarin. Berani sumpe Bang, aye beneran kagak ngajarin ape-ape.” Jelas Fatime sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
“Ape jangan-jangan die pernah denger kite lagi endehoi ?” Kata suaminya lagi sambil garuk-garuk jenggotnya.
“Mane aye tahu Bang. Biasanye kalo aye jerit pan abang tekep mulut aye.” Jawab Fatime lagi.
Mereka makin asyik mendengarkan anak dan mantu mereka yang sedang melakukan ritual malam pertama.
“Stt Bang dengerin lagi. Lela mengaduh-aduh kagak tahan.” Kata Fatime.
“Iye. Kayak loe dulu pas masih seret hehehehehe..” Kata suaminya lagi. Sebuah pukulan mendarat di badan suaminya. Suaminya hanya tertawa perlahan.
“Ah.. ah…ah..!!! Mas, susah bener ya. Aduh! Gak tahan neh Mas. Aduh, sakit-sakit enak tapinya Mas. Ahhhh..!” seru Lela bernafsu.
“Iya Dhik, sabar ya. Bentar lagi pasti berhasil Mas keluarin. Ughhhhh!! Tahan Dhik, ditahan ya. Mas hampir berhasil neh. Mau keluar. Tahan ya..” Kata mas Suratmo.
“Accccchhhhhhhhhhhhhhhh..!!” Teriak Lela lega
“Udah sayang. Dah bisa Mas keluarin.” Kata mas Suratmo gembira.
“Asyikkkkkkkkk dah keluar…!!!!”seru Fatime sambil kegirangan.
“Iye kayaknye cucu kite bakal jadi orang hebat. Buktinye dah empat kali si Atmo keluar. Hebat bener mantu gue.” Kata suaminya Fatime bangga.
“iye si Atmo hebat pan dulu Abang kuatnye cuman tige kali aje habis gitu lemes. Padahal aye pengin lagi.” Keluh Fatime mengingat kejadian waktu masih muda dulu.

Suaminya hanya tersenyum-senyum.

“Udeh kite tidur aje yuk . Dah selese kayaknye.” Kata suami Fatime sambil merebahkan badannya.
“Iye Bang aye jadi ikut-ikutan capek dengerin Lela me Atmo.” Kata Fatime setuju dan rebahan disamping suaminya.
“Mas, lagi dong jangan stengah-setengah!” Rengek Lela.
“Iya Dhik. Mas juga ndhak mau setengah-setengah kan ndhak enak. Bentar ya Mas ambil minum di meja.”
Terdengar suara derit tempat tidur.
“Gile, anak kite Fatime minte nambah die..!! Ck..ck..ck.. bener-bener kaye loe ye.” Kata suaminya sambil bangun dari tidurnya dan merapatkan telinganya ketembok.
“Iye bang. Hebat pan anak kite.” Sahut Fatime bangga sambil bangun juga.
Mereka gak jadi tidur.
“Dhik minum dulu.” Kata mas Suratmo.
“Makasih ye Mas. Lela seneng banget dan makin cinte ame mas Atmo nyang ganteng.” Rayu Lela.
“Aih. Dhik bisa saja.” Kata mas Suratmo lagi.
“Si Atmo romantis juge ye bang. Kagak kaye Abang. Romantisnye cuman pas pacaran doang.” Kata Fatime sambil merengut.
“Fatime, sadar loe dah tue kagak usah macem-macem nape. Lah Pan gue bukan orang Jawe.” Kata suaminya membela diri.
“Stt..! Dengerin lagi bang.”
“Ayo Mas. Cepetan dibukain lagi, aye dah kagak tahan neh sampe keubun-ubun.” Rajuk Lela
“Iya Dhik sayang. Mas bukain satu-satu ya. Bantuin diraba ya Dhik biar cepet.” Kata mas Suratmo.
“Iya mas.”
“Bang, kok pake diraba lagi? Ape masing kurang ye..?” tanye Fatime.
“Iye kali masing kurang. Namenye juge anak jaman sekarang. Ntar kite cube ye? Hehehe..!!!” pinta suaminya Fatime.
“Ho oh Bang” jawab Fatime sambil tersenyum simpul.
“Ah..!!”
“Sabar Dhik. Pasti sakit ya? Mas kasih minyak aja bagaimana?” Tanya mas Suratmo.
“Uh..!! Kagak usah Mas. Aye masih bise nahan kok. Ahhhh..!!” Jawab Lela sambil menahan sakit.
“Au…!’
“Ahhhh..!!”
“Ugh….!!!”
“Hm…!!!”
“Waduh…!!” teriakkan Lela
“Maaf Dhik. Sakit ya? Tahan ya Dhik bentar lagi selesai terus mas keluarin. Biar dhik ndhak merasa senut-senut lagi.” Kata mas Suratmo menyabarkan Lela.
Suaminya fatime Geleng-geleng kepala.
Fatime tahan nafas sambil meluk suaminye.
“Ughhhh…!!! Susah ya Dhik. Bentar ganti posisi saja bagaimana? Dhik duduk sambil pegangin tiang tempat tidur ya. Ditahan ya Dhik nanti Mas tarik.”
“Sakit kagak neh Mas?” tanya Lela.
“Ya dicoba saja, Dhik.” Jawab mas Suratmo.
Terdengar derit tempat tidur.
“Set anak gue mau ditarik-tarik.” Kata suami Fatime sambil mengepalkan tangannya.
“Tunggu dulu nape Bang kali aje itu model orang-orang sono.” Kata Fatime menenangkan suaminya yang agak emosi.
“Hm..!!! Awas kalo anak gue sampe ditarik-tarik. Emangnye anak gue layangan.” Ancem suaminya Fatime.
“Udeh deh Bang dengerin aje dulu.” Kate Fatime
Mereka kembali memasang kuping mereka ke dinding.
“Dah siap, Dhik?” tanya mas Suratmo.
“Iye aye dah siap mas. Pelan-pelan aje ye mas nariknye.” Pinta Lela pada suaminya mas Suratmo.
“Iya Dhik. Mas pasti pelan-pelan kok. Mas pegang ya Dhik.”
“Iya. Uhmmmmmm..Mas..!!” kata Lela.
“Ugh..! Ayo Dhik tahan ya ini dah mau keluar. Hampir Dhik.”
“Ah.. Mas..!!”
“Ohhh..! Au..!”
“Mas.. oh.. oh… oh…Massssss..”
“Tuhkan Bang, mereka lagi asyik. Biarin aje. Kayaknye kali ini bakal banyak deh si Atmo ngeluarinnye.” Kata Fatime.
“Iye…!! Makin cepet neh gue bakal nimang cucu.” Kata suaminye.
“Wah Bang, desahannye ame teriakkannye si Lela seru juga ye…!!!” kata Fatime.
“stt.. diem loe..!! Gue lagi tahan nafas neh. Kok gue jadi ikut-ikutan tegang ye?”
“Yee..!! Itu mah Abang aje nyang doyan.” Seru Fatime.
Mereka kembali merapatkan barisan kedinding.
“Ughhhhhhh..!!” teriak mas Suratmo.
“Ah.. Mas..Mas.. pelan-pelan aje. Au..!’ Kata Lela.
“Iya Dhik. Tapi ini bentar lagi bisa keluar. Ayo Dhik. Ditahan ya. Uhhhh..!”
“Iye mas. Aye tahan ampe pinggang aye pegel semuenye. Terus Mas. Ah.. Ugh… oh..!” Teriak Lela.
“Ugh.. ugh.. Dhik ini bisa keluar. “
“Aaaaaaaaaaaaaa…!” Lela menjerit
“Brakkk…” Suara tempat tidur berbunyi lebih keras dari yang tadi.
“Waduh..! Bang, udah berhasil keluar lagi bang. Mantu kite emang hebat.” Kata Fatime kepada suaminya.
“Iye. Besok si Atmo gue ajak minum jamu biar lebih kuat lagi.” Kata suaminya fatime.
“Iye Bang. Ntar si Lela aye buatin jamu sari rapet biar balik rapet lagi.”
“Stt..dengerin lagi.”
“Ah…. Lega Mas. Aye lega beneran neh Mas.” Kata Lela.
“Iya Dhik, Mas juga lega. Mas ndhak tega ngelihat Adhik tersiksa terus dari tadi siang.” Kata mas Suratmo.
“ Heh..????” Ape maksudnye?” Kata Fatime.
Suaminye makin penasaran.
“Stt…” Kata suaminya pada Fatime.
“Iye Mas. Untung aje bise dilepasin ye. Kepala aye dah lega sekarang.” Kata Lela.
“Dhik, ini mo dtaruh dimana?” Tanya mas suratmo.
“Diatas meja aje mas. Kagak ape-ape.” Jawab Lela
Fatime pandang-pandangan sama suaminya.
“Masa punya Lela mau ditaruh diatas meja?” Tanya Fatime.
“Mane gue ngarti. Emang aneh anak jaman sekarang.” Jawab suaminya.
Mereka mendengarkan lagi.
“Mas, nanti aye ogah ah make konde lagi. Capek ngelepasinnye,bikin kepale aye makin pusing.” Pinta Lela.
“Iya, Dhik ndhak usah pakai konde lagi nanti kalo ada acara. Mas ndhak kepingin Adhik tersiksa. Yuk tidur saja sudah malam. Mas tahu Adhik sudah capek.” Kata mas Suratmo
“Iye Mas. Yuk.” Sahut Lela.
Dibalik dinding..
“KONDEEEEEEE..?” teriak Fatime.
“Sedari tadi mereka kagak ngapa-ngapain cuman ngelepasin konde aje. Sie-sie kite dengerin ye.” Kata suamianya Fatime.
“Iye Bang, gagal dong kite bakal punya cucu dari malam pengatin.” Kata Fatime lemes.
“Ho oh” sahut suaminye sambil ngegeletak lemes.

The End.......