Home » , » CERITA DEWASA : TIPS & TRIK DALAM DUNIA TULIS MENULIS

CERITA DEWASA : TIPS & TRIK DALAM DUNIA TULIS MENULIS

Written By Ratiz On on Minggu, 23 Juni 2013 | 16.40

Sebelum masuk kedalam tips teknis menulis cerita, ada baiknya kita bahas dulu tentang istilah-istilah dalam kepenulisan. Maksudnya kalo ntar ternyata gue make istilah ini, reader-san nggak bakalan bingung. Tapi mari kita bahas istilah-istilah yang umum aja. Soalnya kalo kita rinciin sama istilah-istilah yang khusus dipake di cerita genre romance, fan fiction, apalagi BOKEP (cerita dewasa) jadi banyak banget istilahnya. Jadi demi kesehatan para pembaca (nggak nyambung) marilah kita bahas istilah-istilah umum aja.


Author : Ini diambil dari Bahasa Inggris. Author artinya si pemilik cerita alias si penulis yang punya authority atau kewenangan bagi ceritanya.

Genre : Maksudnya adalah jenis cerita. Ini juga diambil dari bahasa Inggris. Satu cerita boleh memasukkan lebih dari satu genre. Genre-genre yang umum diantaranya

Romance : cerita cinta-cintaan

Science Fiction: cerita fiksi tentang ilmu pengetahuan atau khayalan tentang masa depan. Contoh paling sederhananya cerita Doraemon

Fantasy: Cerita fiktif yang cuma ada di khayalan (contohnya: cerita tentang vampir, werewolf, monster, dll)

Fan Fiction : Sering pula disingkat menjadi FF. Cerita fiktif yang dibuat oleh seorang fan mengenai tokoh idolanya. Bisa tokoh di dunia nyata atau tokoh di kartun. (contohnya cerita tentang Hermione tokoh Harry Potter yang dibuat oleh seorang author jadi pacaran ama Malfoy. Atau contoh lain adalah salah satu FF-ku yang judulnya SHINee as bright as the SKY.

Teenlit : Di beberapa web disebut sebagai Teen fiction cerita tentang kehidupan remaja yang bisa ada cinta-cintaannya, school life (kehidupan sekolah), pembunuhan, trauma, dll.

Horor/Thriller : mungkin banyak yang nyamain Thriller ama horror tapi sebenernya ada bedanya. Kalo Horror, biasanya yang membuat cerita itu menakutkan adalah hantu atau kutukan sementara Thriller yang ngebuat ngerinya itu adalah pembunuhan yang sadis yang dilakukan oleh orang lain dan teror yang disebabkan oleh hal itu. (contoh thriller: SAW)

OC : Atawa Original Character. Yang bisa kita sebut OC adalah khusus buat karakter (tokoh) yang emang buatan kita sendiri. Misalnya kalau tiba-tiba ada Naruto (tokoh dari sebuah komik jepang) di cerita kita, kita nggak bisa nyebut Naruto sebagai OC kita karena karakter itu bukan kita yang bikin.

POV : Ini kependekan dari Point of view. Ini juga dari Bahasa Inggris yang artinya adalah Sudut pandang. Mungkin kalau lo buat cerita dengan satu POV aja, lo nggak perlu nyantumin POV di cerita lo pembaca juga udah bisa nebak sendiri POV yang dipake. Tapi kalo lo make cerita yang multi-POV harap dicantumkan POV per-chapternya. POV sendiri secara umum dibagi 3:

Orang ketiga (author POV / 3rd POV) : cerita dibawakan oleh si penulis sebagai orang ketiga diluar cerita dimana dia bertindak sebagai orang yang tau segalanya.

Orang kedua didalam cerita (POV Tokoh utama / 1st POV) : Cerita dibawakan oleh tokoh utama yang bercerita sesuai dengan pandangan dia.

2nd POV : Kalau yang saya tangkap, jadinya seperti: apa pun maksudnya, apa pun bentuk penulisannya, menggunakan Second Person sebagai POV mayoritas artinya membentuk suatu deskripsi interaktif, dimana pembaca berperan sebagai seseorang (bisa dirinya sendiri atau tokoh yang sudah ada) dan masuk ke dalam cerita.

contoh :

Setiap kita memiliki ruang dan waktu atau syair dan nada yang membawa kita kembali ke masa itu, sebuah masa yang tak'an bisa terbeli dengan berapa pun banyak harta yang kau miliki.

Sekarang, bisakah anda bayangkan, anda tengah berdiri mematung, menatap sepasang mata wanita dari balik jendela. Lalu anda, beranjak berjalan memasuki kamar di mana wanita tsb berada. Seketika itu juga anda merasakan dinginnya hawa dalam kamar tsb, sementara si wanita tak menghiraukan kedatangan anda, dan masih menatapi dinding-dinding ber-cat putih gading. Inilah yang kurasakan, sungguh hatiku tak mampu lagi menguak kenangan bersamanya .. bersama "orang gila" yang kini sedang ku temui. Ia membiarkanku mematung, seperti tiang salib yang terpancang di atas (bukit) Golgota. (anal creampie. By: Tarra Nadhira)


Multi POV : satu cerita dibawakan oleh berbagai POV tokoh dalam cerita dan terkadang dicampur oleh POV author.

Rating : Yaitu penjelasan batasan usia. Jadi cerita itu layak dibaca sama orang yang usia berapa? Nah, disini penjelasan soal rating yang umum dipake..

G (General Audiences) : pastiin cerita kamu boleh dibaca anak-anak. No kekerasan, no sifat-sifat tercela. Paling ceritanya tentang kancil yang menolong rubah.

PG (Parental Guide Suggested) : cerita boleh dibaca anak umur 7 taun keatas atau yang bisa bedain sifat baik dan sifat buruk. Misalnya cerita tentang kancil anak nakal suka curi-curi mentimun.

PG-13 (Parents Strongly Cautioned) : Mulai deh ada romance-romance kecil, first love, kissing. Tapi nggak ada bau-bau bokep ye.. Buat anak umur 13 +

R (Restricted) : Nah ini nih yang paling males gue bahas. Ada yang sadis-sadis (pembunuhan), pemerkosaan, and then yang paling terkenal dari rating ini, jelas kan, adegan sex and bla bla bla

Diksi : Di dalam sebuah karangan, diksi bisa diartikan sebagai pilihan kata pengarang untuk menggambarkan sebuah cerita. Diksi bukan hanya berarti pilih memilih kata melainkan digunakan untuk menyatakan gagasan atau menceritakan peristiwa tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa, ungkapan-ungkapan dan sebagainya. Gaya bahasa sebagai bagian dari diksi yang bertalian dengan ungkapan-unkapan individu atau karakteristik, atau memiliki nilai artistik yang tinggi.


first step:

Sebagai penulis pemula, ente sebaiknya membuat corat-coret kasar sebagai pegangan awal untuk pengembangan cerita . (mungkin) Rekan-rekan ente yang udah menulis cerita, lazimnya menyebut hal itu sebagai kerangka cerita. Layaknya, membangun sebuah bangunan, pasti di butuhkan kerangka (kerangka tidak sama dengan pondasi) Dalam kerangka itu termuat:

1) Pokok persoalan yang akan diceritakan;

2) Tokoh yang mengalami persoalan tersebut;

3) Tempat dan waktu terjadinya peristiwa;

4) Konflik yang dialami oleh tokoh;

5) Cara tokoh menyelesaikan konflik;

6) Nasib tokoh pada akhir cerita;

7) Dan posisi ente sebagai pencerita.

Pokok persoalan, tokoh, dan peristiwa yang diangkat dalam cerita mungkin saja berupa kejadian nyata yang (pernah) ente alami, dengar, Baca, ataupun ente lihat dalam kehidupan sehari-hari yang sudah ente samarkan, tambah, edit, dan di perkaya dengan imajinasi sedemikian rupa sehingga sukar dibuktikan kebenarannya oleh pembaca. Tentu saja tidak semua pokok persoalan ataupun peristiwa layak diangkat menjadi sebuah cerita karena cerita yang kuat lazimnya menyajikan pokok persoalan yang unik, yang menarik untuk diceritakan, dan memberikan suatu pencerahan pada pembaca.

second step:

Tentukan bagaimana sebaiknya ente memulai atau membuka cerita. Ente mungkin dapat memilih salah satu di antara sekian banyak cara yang sudah pernah digunakan oleh beberapa author dalam membuka cerita. Misalnya:

1) Perkenalkan tokoh yang akan mengalami peristiwa dalam cerita ente. Perkenalan ini lazimnya dibuat dalam bentuk deskripsi fisik ataupun mental sang tokoh, baik dalam bentuk uraian langsung, maupun dalam bentuk monolog ataupun dialog sang tokoh dengan tokoh lain.

2) Gambarkan lingkungan alam tempat tokoh berada. Ente dapat saja memulai cara ini dengan deskripsi cuaca, kegiatan manusia/hewan, dan sebagainya.

3) Penempatan satu peristiwa tertentu yang Ente anggap kuat atau penting dalam cerita tersebut.

third step:

Cara ente memulai cerita akan memberi efek pada pengurutan peristiwa dalam cerita. Para analis sering menggunakan istilah alur atau plot untuk merujuk pada cara seorang penulis mengurutkan peristiwa dalam cerita tertentu. Bila ente memulai cerita dengan pengenalan tokoh atau lingkungan alam tempat tokoh berada lalu dilanjutkan dengan peristiwa lain secara kronologis (urut waktu kejadian), ente menggunakan alur maju. Sebaliknya, bila ente memulai cerita dengan peristiwa tertentu yang menjadi klimaks atau peristiwa lain yang ente anggap kuat lalu ente lanjutkan dengan penjelasan sebab-musabab terjadinya hal itu melalui sistem sorot balik, flashback, ente telah menggunakan alur mundur. Tapi, ente tak perlu memikirkan apa komentar para analis. Yang penting, ambil kertas, ambil pena, buat sebuah atau beberapa buah paragraf pembuka cerita ente.

fourth step:

Saat membuka cerita ente sudah harus menentukan di mana posisi ente sebagai penulis atau pencerita. Artinya ente harus memilih: bermain dalam cerita ente (1st POV) atau menggunakan sudut pandang ketiga (3rd POV) seperti sebuah kamera yang mampu men-shoot scene dari sudut manapun atau penonton. Bila ente ikut bermain di dalamnya, ente sebaiknya menggunakan sudut pandang aku. Semua hal dalam cerita mengalir dari tokoh aku. Sudut pandang ini memudahkan ente dalam memaparkan berbagai hal tentang tokoh aku, termasuk pemikirannya, perasaannya, dan sebagainya. Sebaliknya, bila ente bertindak sebagai penonton, ente mencoba menceritakan apa yang dapat ente amati, ente dengar, ente baca tentang tokoh tertentu dalam cerita. Ente berada di luar cerita dan bertindak sebagai pelapor atau komentator. Kadang-kadang, dalam cerita-cerita yang telah terpublikasikan, pelapor atau komentator menjadi orang yang mahatahu. Ia tahu juga apa yang dirasakan, dipikirkan, dan yang terbersit dalam hati tokoh. Terserah ente sajalah. Toh, yang punya cerita kan ente. AP_KT_NT_AJ .. pokoknye...


fifth step:

Usahakan agar tokoh cerita ente hidup, seperti layaknya tokoh dalam dunia keseharian. Kalau tokohnya binatang atau pohon, binatang dan pohon itu mirip dengan binatang dan pohon yang ente temukan dalam kehidupan . Ia memiliki sifat-sifat kebinatangan dan kepohonan, meskipun mungkin binatang atau pohon yang ente gambarkan itu unik, mungkin hanya ada di tempat atau dalam khayalan ente saja. Sebaliknya, kalau tokoh cerita ente adalam manusia, tokoh tersebut idealnya memiliki sifat/watak seperti manusia pada umumnya. Ia memiliki sifat kemanusiaan, meski kadang ente mungkin menggambarkan tokoh yang unik, hanya ada dalam lingkungan ente sendiri. Karenanya, tokoh sebaiknya tergambar secara detail, baik fisik maupun mental/jiwa/perasaannya. Ente boleh saja menyebut atau menguraikan secara langsung ciri-ciri fisik ataupun perasaan tokoh ente. Cara ini disebut cara atau teknik analitik. Namun, ente juga dapat menghadirkan kondisi fisik, tabiat, dan perasaan tokoh ente melalui dialog tokoh dengan dirinya sendiri, dialog antartokoh, tanggapan tokoh lain, ataupun penggambaran lingkungan tokoh. Cara ini disebut teknik dramatik. Kadang-kadang, penggambaran latar cerita dan penggunaan diksi atau kata-kata dalam dialog tokoh, seperti ungkapan-ungkapan daerah/lokal, dapat membantu memperjelas identitas dan watak tokoh ente.

sixth step :

Kalau ente kehabisan kata, beristirahatlah. Kalau masih sanggup, lanjutkan cerita ente dengan pemaragrafan peristiwa-peristiwa yang sudah di rancang dalam tahap pertama. Ingat, sebagai sebuah refleksi realitas keseharian, usahakan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh tokoh berlangsung dalam suatu urut waktu ataupun sebab akibat. Gunakan juga dialog ataupun monolog dalam paragraf-paragraf ente untuk membantu menjelaskan mengapa peristiwa atau hal tertentu terjadi dan bagaimana reaksi tokoh utama atau tokoh lain terhadap peristiwa tersebut. Ingat, dialog ataupun monolog akan sangat membantu ente dalam memperkenalkan dan mengembangkan watak tokoh dalam cerita sehingga mirip dengan realitas keseharian. Usahakan agar ente tidak mengurut peristiwa atau memperkenalkan tokoh ente dalam bentuk singkat kata atau singkat cerita.

seventh step:

Usahakan menjalin peristiwa yang akan diceritakan sedemian rupa sehingga menghasilkan konflik cerita. Konflik dalam cerita dapat berupa konflik antara tokoh dengan tokoh lain, konflik antara tokoh dengan dirinya sendiri, dan konflik antara tokoh dengan alam atau lingkungan. Hal ini perlu karena kekuatan sebuah cerita sangat bergantung pada konflik yang dialami oleh tokoh dalam cerita. Konfliklah yang membuat pembaca menjadi hanyut, larut, ingin tahu kelanjutan, dan menghembus napas lega ataupun menangis pada akhir cerita.

eighth step:

Tutup atau akhiri cerita ente bila peristiwa yang dirancang dalam corat-coret awal sudah habis. Jangan terburu nafsu untuk menambah peristiwa-peristiwa lain yang akan membuat cerita ente menjadi kepanjangan, bertele-tele. Nanti, kalau sudah bosan jadi cerpenis, buat cerita lain yang lebih panjang (novelet) atau sekalian saja dalam bentuk yang mahapanjang (novel). Sudahlah, itu perkara nanti. Sekarang buat saja paragraf penutup untuk cerita ente. Jumlahnya boleh satu, dua, ataupun tiga paragraf. Dalam paragraf tersebut ente dapat saja menggambarakan keberhasilan tokoh menyelesaikan konflik yang dihadapinya (happy ending). Atau, sebaliknya, ente membiarkan tokoh pasrah, mati, pada akhir cerita. Kalau ente tak dapat memilih, kasihan pada tokoh ente, biarkan saja cerita ente menggantung, tanpa penyelesaian, biarkan saja pembaca menjadi penasaran dan menyelesaikan sendiri cerita tersebut. Cucian dwech looo !!

ninth step:

Cuci tangan cuci kaki dan persiapkan mental anda untuk memposting karya ente tersebut. Jangan marah kalau-kalau komentarnya tidak sesuai dengan harapan ente. Semua komentar atau tanggapan harus di terima dengan hati yang lapang. Ente timbang-timbang saja semua komentar tersebut. Kalau ente setuju dengan saran atau komentar rekan ente, ubah saja seperlunya. Lagipula, kritik dan saran itu ibaratnya pecut yang membuat kita lebih terbangun. Lalu tanyakan beberapa pertanyaan di bawah ini pada diri kita sendiri:

1) apakah pokok persoalan yang mau kusampaikan telah tersampaikan dalam cerita ini?

2) apakah peristiwa-peristiwa yang kupilih ini mampu menyampaikan tema tersebut?

3) apakah tokoh yang kupilih cocok untuk menyampaikan tema tersebut?

4) apakah tokoh dan peristiwa dalam cerita mirip dengan realitas sehari-hari?

5) apakah kata atau bahasa yang kugunakan dalam cerita ini memikat, mudah dipahamioleh pembaca?

6) apakah, apakah, apakah, apakah?*

tenth step :

Banyak-banyaklah membaca. Orang bilang, “penulis yang baik adalah (juga)pembaca yang baik”. Kalau ingin jadi penulis yang hebat, ente mesti banyak-banyak membaca karya yang sudah ditulis oleh penulis yang hebat lainnya. Lihatlah bagaimana penulis tersebut mengemas peristiwa tertentu dalam ceritanya. Lihat juga diksi/kata-kata yang digunakan, kalimatnya, dan sebagainya, ente juga boleh mencontoh hal yang ente anggap kuat.