Home » » KRISIS BAHASA ANCAM BANGSA INDONESIA

KRISIS BAHASA ANCAM BANGSA INDONESIA

Written By Ratiz On on Jumat, 01 Februari 2013 | 07.07

Dewasa ini bangsa Indonesia dihadapkan pada krisis bahasa, berupa pemakaian bahasa asing yang tidak proporsional dan pencampurbauran bahasa Idonesia dengan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris.


Krisis bahasa itu juga disebabkan oleh hilangnya kecintaan terhadap bahasa daerah dan masuknya bahasa asing ke Indonesia dalam layanan umum berupa merek dagang melalui jalur investasi,” kata Kepala Balai Bahasa Medan, Prof Amrin Saragih, di Medan, Minggu.

Ia mengatakan, kini ada anggapan dimasyarakat bahwa satu-satunya jalan untuk selamat dari arus globalisasi adalah dengan penguasaan bahasa asing khususnya Bahasa Inggris. Bahasa Inggris juga dianggap memiliki daya jual dan daya pengangkat marwah dan wibawa.

Itulah sebabnya merek dagang, spanduk, nama perusahaan dan nama hotel atau layanan umum lainnya hampir semuanya dalam bahasa Inggris. “Atau merek dagang bercampuraduk antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris.

Ini merupakan salah satu bukti kita mengalami krisis bahasa, juga mengalami krisis identitas atau jati diri karena bahasa Indonesia melambangkan jati diri bangsa,” katanya.

Menurut dia, upaya yang efektif untuk mengatasi krisis bahasa tersebut adalah dengan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap bahasa Indonesia melalui pendidikan yang berkualitas.

Disamping itu, semua pihak baik politisi, wartawan, kaum intelektual, tokoh masyarakat perlu diberi pemahaman tentang kebijakan kebahasaan yang dibuat oleh pemerintah. Kebijakan kebahasaan Indonesia adalah menjunjung tinggi bahasa persatuan atau nasional, yakni bahasa Indonesaia dan menjadikannya sebagai bahasa pergaulan yang lebih luas secara kuantitatif dan kualitatif.

Kebijakan tersebut, tambah dia, tidak memusuhi bahasa asing, tetapi menempatkan peran bahasa asing pada posisi yang proporsional sebagai bahasa pengantar untuk komunikasi antar bangsa.

Sementara bahasa daerah juga menempati proporsi yang sesuai sebagai bahasa pergaulan didalam suku yang sama dan pemerkaya bahasa Indonesia.

“Dengan memahami kebijakan kebahasaan itu, bangsa Indonesia akan meningkatkan apresiasinya terhadap bahasa Indonesia dan memiliki ketahanan kebahasaan yang akan menghindarkan kita dari krisis identitas,” katanya.

sumber