Home » » TEMPAT PALING ANGKER DI BANYUWANGI

TEMPAT PALING ANGKER DI BANYUWANGI

Written By Ratiz On on Senin, 24 Maret 2014 | 20.38

1. Rawa Banyu


Tempat ini memang terkenal angker. Rawa Bayu di Desa Bayu, Kec. Songgon, Kab. Banyuwangi memang sangat hening dan singup (angker). Telaga itu menyimpan sejarah Blambangan yang penuh linangan air mata dan tetesan darah. Di salah satu sudut di pinggir telaga itu terdapat petilasan Raja Blambangan Tawang Alun ketika bersemedi merenungi kematian dua adiknya, yang berperang melawan dirinya.

Di tempat ini memang sering muncul penampakan wanita atau laki laki. Di Desa Bayu terjadi perang puputan atau habis-habisan rakyat Blambangan melawan penjajah VOC Belanda, 18 Desember 1771. Puputan itu diakui Belanda sebagai peperangan paling brutal dan kejam, serta menghabiskan biaya senilai 8 ton emas.

2. Alas Purwo


Alas Purwo adalah sebuah kawasan hutan Taman Nasional di bawah lingkup Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Alas Purwo terletak di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Bagi masyarakat sekitar nama alas purwo memiliki arti sebagai hutan pertama, atau hutan tertua di Pulau Jawa, tak heran bila masyarakat sekitar menganggap Alas Purwo sebagai hutan keramat.

sehingga selain diminati sebagai tujuan wisata alam, kawasan Alas Purwo juga diyakini memiliki situs-situs yang dianggap mistis yang menjadi magnet bagi para peziarah untuk melakukan berbagai ritual di hutan ini.

3. SMA Pandan Banyuwangi


Dulu pernah ada kisah seorang gadis yg habis pulang mengaji. Memang disekolah itu terdapat 2 pohon beringin. Gadis ini mengajak temannya untuk iseng melewati pohon beringin tersebut. Saat lewat, ada sesuatu yg mengenainya. Saat akan mengambil brg tersebut utk dibuang, benda yg awalnya dikira batu, ternyata adalah sepotong tangan yg keriput, penuh darah, serta gosong.

4. Pantai Watu Dodol


Apabila Anda sering beperpegian ke Bali lewat darat, terutama lewat utara Jatim, yaitu kawasan Situbondo, maka saat memasuki wilayah Banyuwangi Anda akan disambut Gapura Kejut. Ada patung Gandrung (Kesenian khas Banyuwangi) di sebelah kiri. Asal usul watu dodol, konon Batu itu berasal dari jualannya Kyai Semar yang terjatuh di tempat itu. Sedang berasnya tumpah, menjadi pasir yang bersih di sekitar pantai watu dodol. Konon alat pukulnya, kayu kelor, terlempat dan menancap di sela-sela batu di sebelah kanan jalan (kalau dari arah barat).

Hal ini juga aneh, karena di celah batu bisa tumbuh pohon kelor. Bagi masyarakat Jawa, kelor merupakan senjata pamungkas untuk menghilangkan segala pengaruh mistik yang dimilki seseorang. Seperti ilmu kanuragan atau ilmu hitam, diyakini akan luntur bila bersentuhan dengan kayu kelor. Sementara bagi warga Using, merupakan bahan sayur segar yang disajikan pada siang hari. Terutama pada hari ke-2 dan setelah pada Idul Fitri. Bisa dipastikan, banyak orang Using yang memasak sayur daun kelor.

Keanehan lain, adanya air tawar yang keluar dari bibir pantai di watu dodol. Padahal, di kawasan itu kan air asin semua. Masih menurut cerita tadi, konon air berasal dari bekal minum Kyai Semar yang tumpah. Bagi orang yang percaya bahwa air itu merupakan air kehidupan (Tirto Nadi). Mereka ada yang membawa pulang, dengan berbagai alasan yang dipercayainya sendiri