Home » » MISTERI KERIS DAN EMPU PEMBUAT KERIS (BAG. III)

MISTERI KERIS DAN EMPU PEMBUAT KERIS (BAG. III)

Written By Ratiz On on Minggu, 02 September 2012 | 22.52

Beberapa hal yang berhubungan mengenai keris


ADEG IRAS, PAMOR, adalah nama pamor yang menyerupai garis lurus mulai dari ujung bilah sampai pangkalnya yang bersinggungan dengan bagian ganja. Pada bagian ganja, pamor ini seolah menyambung lagi sampai kebagian yang bersinggungan dengan pesi. Pamor ini dinilai baik tuahnya dan tergolong pamor langka.

AENGTONG TONG, nama desa di Serunggi, Sumenep yang sampai kini masih membuat keris dan tombak. Desa ini dulu merupakan tempat tinggal para EMPU yang memenuhi kebutuhan kerajaan Sumenep dan kini masih ada beberapa orang yang bekerja sebagai pandai keris seperti Jaknal, Jembar, Jekri, Hoji dan lain lain.

AEROLIT, adalah batu pamor yang sangat keras dan berasal meteor, bila telah menjadi pamor akan berwarna kuning keabu-abuan. Gradasi warnanya tidak terlalu kontras dibandingkan dengan kehitaman warna besi dasar sehingga sulit dilihat mata, pamor dari bahan ini sering juga disebut Jalada.

AKHODIYAT, PAMOR, adalah bagian dari kelompok pamor yang memiliki kecemerlangan lebih gemerlap dari bagian pamor lainnya. Pada satu permukaan bilah keris, ada bagian yang kecemerlangan pamornya menonjol dibanding kecemerlangan pamor disekitarnya dan sepintas lalu mirip dengan lelehan logam keperakan yang putih mengkilap. Menurut EMPU Fausan Pusposukadgo, ini terjadi karena suhu yang tepat pada saat penempaan dan bukan dibuat oleh logam perak seperti dugaan orang, Pamor ini tidak dapat direncanakan dan tergolong pamor Tiban, pamor ini banyak disukai orang, di Madura dan Jawa Timur disebut Pamor Deling.

AKIM, nama seorang pembuat keris yang hidup diawal abad 20, dijaman penjajahan Belanda dan tinggal di kampung 21 Ilir, Palembang.

ALIAMAI, sebutan orang Serawak, Brunei, Sabah dan sebagian penduduk Mindanau Selatan untuk menyebut keris. Diperkirakan dari bahasa Sulu di Mindanau Selatan.

ALIP, nama pamor yang selalu menempati sor-soran, terutama pada sebilah keris, namun kadang ditemui juga di tombak. Termasuk pamor titipan dan pamor Rekan. Bentuknya hanya merupakan garis lurus, tebal sepanjang sekitar 4 sampai 6 cm dan kadangkala ujung garis itu membelok patah sedikit. Pamor Alip bukan merupakan pamor Sada Saler terputus, tetapi sengaja dibuat begitu dan karena titipan kadangkala terdapat disela pamor lainnya yang lebih dominan.
Bagi sebagian orang, pamor ini mempunyai tuah baik yakni memperkuat iman, tahan godaan dan tidak tergolong pamor pemilih hanya pemiliknya harus berpantang terhadap beberapa hal.

AMBER, MINYAK, campuran minyak keris dengan bau yang keras memberi kesan sakral, ada yang menyebut minyak Misik.

ANDA AGUNG, salah satu bentuk pamor berbentuk garis-garis menyudut, bersusun-susun, berjajar keatas dari pangkal keujung bilah, tergolong pamor tidak pemilih dan dipercaya dapat memperlancar karier. Termasuk pamor Miring.

ANGGA CUWIRI, EMPU terkenal pada jaman kerajaan Majapahit sekitar abad 14, buatannya dikenali dengan tanda sebagai berikut : Ganjanya relatif berukuran panjang dibanding dengan keris buatan jaman Majapahit lainnya. Gulu melednya berkesan kekar dan kokoh. Buntut cecaknya tergolong ngunceng mati. Bagian gendokannya montok, gembung. Bilah kerisnya berukuran sedang tetapi agak ramping dan agak tebal, besinya matang tempaan berwarna hitam kebiruan namun mempunyai kesan kering. Dibanding dengan bentuk keris secara menyeluruh, bagian sor-soran agak terlalu lebar, blumbangannya juga lebar dan luas. Pamornya sederhana, kebanyakan Wos Wutah atau Pulo Tirto.
Keris buatan EMPU Angga Cuwiri mempunyai kesan penampilan yang keras, berwibawa dan meyakinkan.

ANDORAN, salah satu cara mengenakan keris sebagai pakaian kelengkapan Adat Jawa Tengah terutama di Surakarta. Keris diselipkan di sela lipatan sabuk lontong, diantara lipatan kedua dan ketiga. Kedudukan keris tegak, ditengah punggung si pemakai sedangkan hulu dan warangka keris menghadap kekiri. Cara ini dipakai untuk menghadap orang yang dihormati, umpamanya Raja atau berada ditempat yang perlu dihormati seperti mesjid, makam dan sebagainya.

ANGGABAH KOPONG, salah satu dari 4 macam bentuk ujung sebilah keris atau tombak, menyerupai sekam padi kopong biasanya buatan Pajajaran atau Tuban banyak yang berbentuk Anggabah Kopong.

ANJANI, NI EMPU, EMPU wanita terkenal dijaman Pajajaran sekitar abad 11, umumnya bilahnya tipis, panjangnya cukup dan manis, besinya pilihan, tempaan matang dan berwarna hitam. Pamornya tergolong Mubyar, biasanya Udan Mas, Wos Wutah atau Pendaringan Kebak dan pamor sejenis itu.

ANGGREK KAMAROGAN, KINATAH, adalah hiasan berupa pahatan relief (gambar timbul) pada sebilah keris atau tombak. Bentuknya berupa rangkaian bunga anggrek. Pahatan ini hampir selalu dilapisi dengan logam emas atau emas dan perak, paling sedikit hiasan ini memenuhi setengah bilah. Dahulu yang berhak memakai ini hanya kerabat Raja dan Patihnya saja.

ANOMAN, Nama dapur keris Luk Lima. Ukuran panjang bilahnya sedang, memakai kembang kacang, lambe gajahnya hanya satu, pakai ri pandan, sogokannya rangkap dan panjang sampai kepucuk bilah, selain itu tidak ada ricikan lain. Keris ini gampang dikenali karena sogokannya yang panjang tersebut.

ANUKARTO, PAMOR, lihat pamor rekan.

AREN, KAYU, jenis kayu biasanya untuk tangkai tombak (Landeyan, bahasa Jawa), karena cukup berat biasa dipakai prajurit berbadan cukup kuat.

ARJANATI, KANJENG KYAI, salah satu tombak pusaka Pura Pakualaman, Yogyakarta. Bentuknya tidak biasa termasuk Kalawija, bilah lurus, pipih dan dibagian pangkal seolah digigit moncong Naga bersayap. Sayap naga tersebut dua susun, depan dan belakang dan masing masing susun memiliki lima bulu. Tombak ini tergolong nom-noman.

ASIHAN, PAMOR, gambar motifnya seolah menyatu antara gambar yang ada di bilah keris dan pamor yang ada di bagian ganja nya, pamor ini tidak berdiri sendiri dan selalu digabingkan dengan pamor lain yang lebih dominan seperti Ngulit Semangka Asihan dan sebagainya.

AWAR-AWAR, KAYU, sering dipakai untuk rangka keris karena memiliki poleng hitam seperti kayu Timoho walau tidak seindah Timoho serta bahannya lunak.

BALEBANG, dapur keris luk lima, ukuran panjang bilah sedang, kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan rangkap pakai sraweyan, tanpa greneng. Selain luk lima juga ada Balebang luk tujuh dengan kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan rangkap dan sraweyan.

BALEWISA, KANJENG KYAI, pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Parungsari, wrangka dari kayu Timoho dengan pendok bunton terbuat dari suasa. Semula milik Tumenggung Sasranegara kemudian diberikan ke anaknya Tumenggung Sasradiningrat yang menjadi menantu Sri Sultan HAMENGKU BUWONO I, keris ini kembali ke Kraton dijaman Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V.

BANGO DOLOG, Dapur keris luk tiga , ukuran bilah sedang, memakai kembang kacang, lambe gajah dua, pejetannya dangkal, memakai tikel alis. Bagian belakang bilah, dipangkal (sor-soran) tepinya tidak tajam sampai ke luk yang ke dua selain itu tidak ada ricikan lainnya.

BENDO SAGODO, pamor yang gambarnya merupakan bentuk gumpalan yang mengelompok rapat, masing masing gumpalan terpisah jarak 0.5 cm – 1 cm dan tergolong pamor rekan. Tuahnya gampang mencari rezeki dan pamor ini tidak pemilih.

BERAS WUTAH, lihat WOS WUTAH.

BERAS WUTAH PELET, gambaran pada wrangka kayu Timoho yang berupa bintik besar dan kecil berwarna hitam tersebar tak beraturan, katanya mempunyai tuah yang baik untuk mencari rezeki.

BESI KUNING, atau wesi kuning sebutan senjata tradisional yang terbuat logam bewarna kuning biasa berbentuk bukan keris tetapi pangot, patrem, golok pendek dan orang orang tua mengatakan bahwa besi kuningan merupakan campuran unsure besi, timah putih, perak, seng, timbal, tembaga, emas. Dipercaya mempunyai kekuatan gaib menjadi orang kebal terhadap senjata lain.

BESUT, lihat MASUH.

BETOK, salah satu dapur keris berukuran bilahnya lebar dibandingkan bilah keris lainnya. Panjang bilahnya pendek lurus, gandiknya panjang, pejetannya dangkal, dan merupakan keris yang tua umurnya.

BIMA KURDA, salah satu dapur keris luk 13, memakai kembang kacang, jenggot susun, lambe gajah satu, tanpa sogokan, tanpa tikel alis. Selain itu memakai Sraweyan dan greneng lengkap. Selain luk 13 ada juga yang luk 23 dan ukuran kerisnya lebih panjang dari kalawija, ricikannya memakai kembang kacang, lambe gajah dua, sogokannya dua, ukurannya normal, memakai greneng lengkap atau hanya ri pandan.

BIRAWA, KANGJENG KYAI, keris pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Carita, luk 11. Wrangkanya terbuat dari kayu Timoho dengan pendok dari emas bertahta berlian. Semula ini punya Sultan HAMENGKU BUWONO I yang dianugrahkan ke Pangeran Hadikusuma, putranya, akhirnya setelah berganti ganti pemilik kembali lagi ke Kraton dengan harga 300 ripis.

BIRING DRAJIT, salah satu dapur tombak lurus, bilahnya simetris. Sisi bilah tombak di bagian tengah ada lekukan dalam,bentuknya menyerupai pinggang yang sempit dan ramping, bagian bawah pinggang ini lebih lebar dibandingkan bagian atas pinggang. Disisi paling bawah ada dua bagian yang menyudut.

Tombak ini memakai ada-ada tipis ditengah bilah mulai bawah sampai ke ujung. Separuh bilah tombak kebawah permukaannya berbentuk ngadal meteng tetapi selebihnya datar saja.
BIRING LANANG, salah satu dapur tombak lurus seperti Biring Drajit, Sisi bilah tombak di bagian tengah ada lekukan dalam,bentuknya menyerupai pinggang yang sempit dan ramping, bagian bawah pinggang ini lebih lebar dibandingkan bagian atas pinggang. Disisi paling bawah ada dua bagian yang menyudut.

Tombak ini memakai ada-ada tipis ditengah bilah mulai bawah sampai ke ujung. Separuh bilah tombak kebawah permukaannya berbentuk ngadal meteng tetapi selebihnya datar saja.
BLABAR, KANGJENG KYAI, nama pusaka kraton Yogyakarta berdapur Pasopati berpamor sekar pala dengan wrangka kayu cendana, pendok dibuat emas murni dan berbentuk blewehan. Keris ini merupakan putran atau duplikat dari pusaka kraton Surakarta yang juga bernama Kyai Blabar. Semula dimiliki Pangeran Hadikusumo tetapi pada pemerintahan HAMENGKU BUWONO V ditarik kembali ke kraton.

BLARAK NGIRID, termasuk pamor miring dan rekan bentuknya mirip daun kelapa dengan pelepahnya dan tuahnya untuk kewibawaan dan kepemimpinan, pamor ini kadang disebut Blarak Sinered atau Blarak Ginered. Pamor ini tergolong mahal dan susah pembuatannya.

BLANDARAN , LANDEYAN, tangkai tombak sekitar 3 atau 4 meter panjangnya, dahulu digunakan prajurit berkuda mengejar musuh atau acara Rampogan dan Watangan (latihan perang-perangan untuk prajurit berkuda) setelah ujungnya diganti dengan semacam bahan lunak.

BLANDONGAN, alat untuk merendam tosan aji sebelum dicuci dan diwarangi, terbuat dari kayu keras dengan ukuran 70 cm x 20 cm x 15 cm, tengahnya ada lekukan dan kadang diukir. Blandongan disebut juga Kowen.

BLUMBANGAN, atau Pejetan atau Pijetan adalah bagian keris yang berupa cekungan atau lekukan pada bagian bawah bilah keris letaknya dibelakang bagian gandik dan didepan bagian bungkul.

BANCEAN, Wrangka kombinasi gaya Surakarta dan Yogyakarta disebut juga Bincihan.

BANDOTAN, Salah satu dapur tombak luk tujuh, sepertiga panjang tombak lurus sedangkan dua pertiga baru ada luk nya, sisi kiri/kanan bawah ada gandiknya berukir naga kadang dihias kinatah, badan kedua naga tersebut menyatu dan menghilang membentuk ada-ada yang besar dan menonjol mengikuti luk.

BANJURA, KI EMPU, seorang EMPU pada kerajaan Demak dan jarang tercatat dibuku, buatannya bentuk ganjanya datar, rata dan tipis, guru melednya kecil , sirah cicaknya panjang tetapi tidak sampai meruncing pada bagian ujung. Bilahnya sedang dan ramping seperti buatan EMPU Majapahit tetapi besinya memberi kesan “kering” berpori dan kurang tempaan, pamornya sederhana, kembang kacangnya ramping tetapi lingkarannya besar, blumbangannya berukuran dalam tapi sempit, sogokannya dangkal dan panjangnya cukup, secara keseluruhan memberi kesan wingit.

BANYAK ANGREM, salah satu dapur tombak seperti angsa mengeram, tidak symetris, lebar bagian bawah, permukaan datar tetapi memakai ada-ada tipis ditengah bilah, ricikan lain tidak ada. Dapur ini banyak terdapat pada tombak lama dan dibuat bukan untuk berperang tetapi sebagai pusaka.

BANYAK WIDE, EMPU, hidup jaman Pajajaran, ada yang menyebut namanya Ciung Wanara, hasil karyanya ganjanya tergolong panjang (ganja wuwung), guru meled juga panjang, sirah cecak membulat tetapi tepat bagian cocor meruncing kecil , besi keris hitam berkesan padat dan liat dan secara keseluruhan memberi kesan angker, wingit.

BARU, nama salah satu dapur tombak lurus, Bilahnya simetris. Bentuk menyerupai daun bambu dengan sedikit lekukan landai dibagian bawah pinggangnya. Lebar bilah bagian bawah sedikit lebih lebar daripada bagian atas pinggang. Tombak ini memakai bungkul dibagian sor-soran, bilah diatas sor-soran berbentuk ngadal meteng. Dapur Baru ini tergolong popular, banyak dijumpai terutama pada tombak buatan Majapahit dan Belambangan.

BARU CEKEL, nama salah satu dapur tombak lurus, bagian tengah bilah agak kebawah ada tekukan landai membentuk semacam pinggang yang cukup ramping, memakai ada-ada dan bungkul kecil. Sisi bilah paling bawah bentuknya menyudut, tetapi permukaan bilah yang menghadap kebawah bentuknya datar.

BARU GRONONG, nama salah satu dapur tombak lurus, bilahnya simetris, bentuknya pipih, tipis, mempunyai lekukan landai dibagian tengah bilah yang menyerupai pinggang. Lebar bilah bagian atas lebih sempit disbanding bagian bawah pinggang. Diatas metuk ada bungkul. Tombak ini memakai kruwingan dikiri kanan bagian bungkul tetapi permukaan bilahnya tidak memakai ada-ada.

BARU KALANTAKA, salah satu dapur tombak lurus, dibagian sisi tengah bilah ada lekukan landai membentuk semacam pinggang yang tidak begitu ramping. Bagian dibawah pinggang ini lebih besar daripada bagian diatasnya. Memakai ada-ada, dibawah ada-ada ada bungkul kecil. Sisi bilah yang menghadap kearah bawah membulat membentuk semacam separuh elips.

BARU, KANGJENG KYAI, tombak pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur baru, semula milik Ki Sawunggaling dari Bagelen kemudian diberikan ke Pangeran Mangkubumi melawan penjajahan Belanda.

BARU KUPING, nama salah satu dapur tombak lurus, bilahnya simetris, menyerupai daun bambu, dengan sedikit lekukan landai pada bagian bawahnya. Hampir mirip bentuknya dengan tombak dapur Baru. Lebar bagian bawah pinggang sedikit lebih kecil dari atas pinggang, memakai bungkul diatas mentuk, permukaan bilah tombak diatas bagian bungkul berbentuk ngadal meteng.

BARU PENATAS, tombak salah satu dapur lurus, simetris, pipih dan tipis. Mempunyai lekukan seperti pinggang ditengah, lebar bagian bawah pinggang lebih besar daripada bagian atas, diatas bagian metuk ada bungkul besar, permukaan bilah tombak diatas bungkul berbentuk ngadal meteng.

BARU TEROPONG, salah satu dapur tombak lurus, bagian tengah ada tekukan landai seperti pinggang tetapi tidak begitu ramping. Bilahnya agak tebal, tidak memakai ada-ada tetapi memakai bungkul berukuran besar namun tipis dan tidak begitu menonjol. Permukaan bilah tombak berdapur umumnya nggigir sapi.

BASSI PAMARO, sebutan bagi pamor Luwu, biasa dipakai orang Malaysia, Singapore dan Brunei dan menjadi bahan dagangan semenjak jaman Majapahit.

BATANG GAJAH, KANGJENG KIAI, Keris pusaka Kraton Yogyakarta berdapur Carita Luk 11, wrangkanya kayu Trembalo, pendoknya emas blimbingan rinaja warna.

BATU LAPAK, pamor yang selalu menempati bagian sor-soran sebuah keris, badik, pedang atau tombak. Bentuknya merupakan berkas garis yang melengkung setengah lingkaran atau menyudut dan tergolong pamor miring serta pamor rekan , tuahnya bisa melindungi dari bahaya tak terduga.

BAWANG SEBUNGKAL, pamor dengan bentuk mirip dengan irisan bawang, menempati sor-soran keris tergolong pamor miring dan rekan. Tuahnya memelihara ketenangan dan ketentraman rumah tangga.

BEKEL JATI, EMPU, hidup di Tuban pada jaman Majapahit, tanda kerisnya Panjang bilah sedang, condong kedepan sehingga berkesan menunduk, lebar bilah dan ketebalannya cukup, bagian ganja agak sempit dibandingkan buatan Tuban lainnya dan termasuk ganja wuwung.

BADAELA, pamor yang dianggap kurang baik termasuk pamor tiban dan terletak di sor-soran, karena tuahnya buruk maka sering diberikan ke museum atau dilarung.

BAKUNG, nama dapur keris luk lima, ukuran panjang bilahnya sedang. Cekungan pejetannya dalam, tikel alis dan greneng, selain itu tidak ada ricikan lain.

CACAP, Suatu kebiasaan keliru yang dilakukan pemilik keris dimasa lampau yaitu merendam bilah kerisnya dengan bisa ular atau isi perut ketonggeng, hal ini bisa merusak bilah.

CACING KANIL, nama salah satu dapur tombak luk 3, 5 atau 7, mirip cacing menggeliat dan berbentuk beda dengan luk keris biasa, pada cacing kanil maka luk mengarah kesegala arah. Tombak dengan motif cacing kanil tidak pipih tetapi bulat atau persegi, bisa segi 3, 4 atau berbentuk belimbing.

Tombak cacing kanil sekarang berubah fungsi bukan sebagai tombak tetapi banyak digunakan sebagai tongkat komando.

CALURING, atau Cluring merupakan dapur keris luk 11, memakai kembang kacang dengan sogokan rangkap tanpa ricikan lain, bilah panjang dan tebal, luk nya makin keujung makin rapat, keris ini mudah dikenali dari luk nya.

Ada juga Caluring luk 13 dengan ricikan yang sama.

CAMPUR BAWUR, keris luk 3, ukuran bilah sedang, luk ada di atas, bawah dan tengah keris sehingga keris cenderung lurus. sogokan keris rangkap, memakai greneng dan pejetan.

CANCINGAN, lihat KANCINGAN.

CARANG MUSTOPO, EMPU, hidup dijaman PAKU BUWONO IV, dikenal juga sebagai EMPU Kyai Mustopo, kerisnya dikenali sebagai berikut , ganja model Sebit Ron Tal, gulu meled sempit, buntut cicak model buntut urang, ukuran ganja seimbang dan serasi dengan panjang bilah. Bilah ramping dengan posisi agak merunduk, matang tempaan dan rapih, keris yang lurus rata rata lebih tebal dibandingkan yang luk. Pamornya sederhana berpenampilan tampan, sopan dan rapi menyenangkan.

CARANG SOKA, Keris luk 9, memakai kembang kacang, lambe gajah satu, sraweyan, ri pandan.

CARITA, keris luk 13, ukuran bilah sedang memakai kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan rangkap dan greneng. Ada juga Carita luk 11.

CARITA BUNTALA, keris luk 13, bilah sedang, kembang kacang, lambe gajah satu, sraweyan, ri pandan, kruwingan tidak melengkung landai tetapi berbentuk patah kaku. Ada juga luk 15, memakai kembang kacang, lambe gajah dua, memakai jalen, sraweyan, ri pandan.

CARITA DALEMAN, keris luk 11, panjang bilah sedang, kembang kacang bungkem, jenggot dan greneng serta lis-lisan dan gusen.

CARITA GANDU, keris luk 11, ukuran sedang, kembang kacang, jenggot, lambe gajah satu, sraweyan dan ri pandan.

CARITA GENENGAN, keris luk 11, bilah sedang, luknya dalam, kembang kacang, jenggot dan lambe gajah satu, sogokan rangkap, sraweyan dan ri pandan. Dapur ini disebut juga Carita Gunungan.

CARITA KANAWA, keris luk 9, panjang bilah sedang, kembang kacang, lambe gajah dua, jalen dan jalu memet, dus sogokan normal, sraweyan, lis-lisan, gusen, kruwingan.

CARITA KAPRABON, keris luk 11, bilah sedang, gusen sampai keujung bilah, kembang kacang, tikel alis, jenggot, jalen, jalu memet, lambe gajah dua, sraweyan, ri pandan, greneng tanpa sogokan.

CARITA PRASAJA, keris luk 11, bilah sedang, kembang kacang dan lambe gajah dua.

CARUBUK, keris luk 7, panjang bilah normal, kembang kacang, lambe gajah dua, sraweyan dan greneng lengkap, ada yang mengatakan harus ditambahi dengan kruwingan.

CELURIT, senjata tradisional Madura, mirip arit, sabit tetapi bagian lengkung diujungnya lebih panjang dan runcing.

CENDANA KAYU, bahan pembuat wrangka yang banyak disukai terutama didaerah Surakarta sekitarnya. Pohonnya berkayu keras dengan tinggi bisa mencapai 15 m, kayu cendana dari Sumbawa terkenal harum baunya lebih dari cendana jawa. Urat kayu cendana yang bagus disebut ngulit urang, doreng, makin bagus makin mahal harganya.

CENGKRONG, salah satu dapur keris lurus, bilahnya sedang posisinya agak membungkuk, bagian gandik terletak dibelakang, panjang sampai lebih dari setengah bilah, tanpa ricikan apa apa, beberapa jenis dapur cengkrong ada yang luk 3, 5, 7, luk terletak diujung keris, dulu banyak dimiliki oleh alim ulama.

CENDANA MINYAK, untuk meminyaki keris, karena mudah menguap dan terlalu kental maka dicampur minyak klentik atau minyak mesin.

CEPLOK BANTENG, PELET, pelet kayu timoho yang bintik bintik besar rapat satu sama lainnya, kadang bersinggungan dan menyebar diseluruh permukaan kayu wrangka. Tuahnya baik untuk kewibawaan.

CEPLOK KELOR, PELET, pelet kayu timoho, bulatan bulatan sebesar daun kelor agak lonjong, menyeluruh di wrangka, tuahnya dapat menawarkan ilmu jahat.

CINCIN KERIS, lihat Mendak,

CITRO, salah satu dapur tombak luk 13 mempunyai semacam kembang kacang, dua lambe gajah ditepi bilah menghadap kebawah didekat bagian mentuk, selain itu memakai ada-ada tipis disepanjang bilah, kebanyakan buatan Mataram.

COCOR, bagian paling depan dari ganja dan merupakan bagian ujung dari sirah cicak. Cocor ada yang tumpul ada yang runcing, kadang disebut cucuk.

CONDONG CAMPUR, salah satu dapur keris lurus, panjang bilah sedang dengan kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan hanya satu didepan dan ukuran panjang sampai ujung bilah, sogokan belakang tidak ada, selain itu juga memakai gusen dan lis-lisan.

CUNDRIK, salah satu dapur keris lurus berukuran kecil sekitar sejengkal bilahnya umumnya agak tebal dan membungkuk, gandik terletak dibelakang berukuran panjang dan terdapat kruwingan yang jelas dan tegas, sepintas seperti keris Cengkrong.

CUNDUK UKEL, keris yang diberikan mertua kepada menantu nya sebagai ikatan keluarganya, biasanya sebelum diberikan ke menantu terlebih dahulu diberikan kepada anak perempuannya. Bila suatu saat mereka bercerai maka keris itu dikembalikan kepada anak perempuan tersebut.

CURIGA, kata lain dari keris yang lebih halus dan sopan.

DADUNG MUNTIR, pamor yang hampir mirip pamor Sada Saler, bedanya garis yang menjulur sepanjamg bilah tidak berbentuk garis biasa tetapi lukisan pamor yang mirip dengan pintalan tambang atau pintalan tali. Tuahnya menambah kewibawaan dan keberanian serta keteguhan hati, tergolong pamor rekan dan banyak terdapat pada keris dan tombak buatan Madura, termasuk pamor pemilih, tidak setiap orang bisa cocok.

DAMAR MURUB, lihat URUBING DILAH.

DAN RIRIS, lihat PANDAN IRIS.

DANUWARSA, KANGJENG KYAI, keris pusaka Kraton Yogyakarta berdapur Jalak Sangu Tumpeng, warangkanya dari kayu trembalo, pendoknya dari suasa, merupakan putran dari KKA KOPEK, buatan Empu Supo dibuat jaman HAMENGKU BUWONO V.

DAPUR, adalah penamaan ragam bentuk atau tipe keris, sesuai dengan ricikan yang terdapat pada keris itu dan jumlah luk nya. Penamaan dapur keris ada patokannya, ada pembakuannya. Dalam dunia perkerisan, patokan dan pembakuan ini biasanya disebut pakem dapur keris.

DARADASIH, nama salah satu dapur tombak luk 5, ditengah bilahnya memakai ada-ada yang ukurannya besar dan tebal sehingga terlihat jelas, bilahnya tebal dan ditepinya ada gusen serta lis-lisan, sisi bilah bagian bawah tombak ini berbentuk menyudut. Ricikan lainnya tidak ada.

DARADASIH MENGGAH, salah satu dapur tombak luk 5, pada luk pertama terdapat pudak sategal, serta kruwingan dibagian sor-soran, permukaan bilah pada separuh bagian atas cenderung datar tetapi bagian bawah berbentuk ngadal meteng. Sisi bilah yang menghadap terdapat semacam kembang kacang dan dua lambe gajah yang kecil kecil ukurannya.

DEDER, bagian hulu keris terbuat dari kayu untuk pegangan keris itu, bentuk deder itu ada ratusan, tiap daerah punya ciri sendiri, di Yogyakarta dan surakarta disebut juga ukiran. Kayunya biasanya dipilih yang gampang diukir tetapi harus keras dan punya urat yang indah, kayu yang dianggap baik di Jawa adalah kayu Tayuman sedang di Malaysia, Riau, Brunei adalah kayu kemuning.

DELING, PAMOR, nama lain dari Akhodiat di Madura, kalau menyebar dibilah keris disebut Delung Settong, kalau mengumpul diujung bilah disebut Deling Pucuk dan kalau dibagian pesi disebut Deling Paksi.

DEWADARU, PELET, nama gambar pada warangka yang berupa garis garis tipis dan tebal berwarna hitam atau coklat tua berjajar dari atas kebawah atau miring, tuahnya bisa mendapat keberuntungan, karena indahnya maka timoho pelet dewadaru banyak dicari orang.

DORA MENGGALA, salah satu dapur tombak luk 5, memakai pudak sategal dan kruwingan , bilah bagian bwah sor-soran agal tebal, tetapi mulai tengah bilah sampai ujung tipis dan datar. Pada sisi bilah uang menghadap kebawah terdapat bentuk yang menyerupai kembang kacang dan satu lambe gajah berukuran kecil.

DORENG PELET, gamvaran warangka kayu timoho berupa jurai jurai berwarna hitam atau coklat pada permukaan kayu, sepintas mirip kulit harimau, gambaran ini selain di kayu timoho juga ada pada kayu cendana dan kayu yang lain.

DRAJIT, nama keris luk 21, tergolong kalawija, ukuran kerisnya sedikit lebih panjang daripada keris bukan kalawija. Mempunyai kembang kacang, lambe gajah dua dan sraweyan. Tergolong keris langka dan buatan lama.

DUNGKUL, lihat WUNGKUL.

DUWUNG, padanan kata keris, dianggap lebih halus dan biasa digunakan oleh priyayi Jawa.

DWISULA, tombak bercabang dua, ada yang lurus dan ada yang ber luk 3, 5 atau lebih, tidak terlalu populer dibandingkan tombak Trisula, kegunaannya lebih sebagai tombak pusaka yang tidak dipakai secara langsung dalam pertempuran, biasanya dibuat indah bahkan ada yang diberi kinatah.

EKSOTERI KERIS, ilmu mengenai keris yang tampak dari luar dan merupakan lawan dari esoteri keris.

ENDAS BAJA, pamor yang menurut banyak orang bertuah buruk, katanya pemiliknya akan sering mendapat musibah karena ulahnya sendiri. Apa yang dilakukan serba salah, sebaiknya dibuang atau dilarung , pamornya selalu terdapat pada bagian sor-soran.

ENTO-ENTO, atau ngento-ento merupakan nama desa di Sleman yang pada masa silam merupakan tempat Empu Supo Winangun. Menurunkan Empu Jeno Harumbrojo dan Empu Genyo.

ENTO WAYANG, Empu yang hidup zaman Kartasura, anak Empu Supanjang dan leluhur Empu Jeno. Tanda tanda kerisnya tidak tercatat hanya selalu membuat keris gaya Mataraman.

EPEK, semacam ikat pinggang tradisional dan merupakan kelengkapan pakaian Jawa, terbuat dari bludru dan kadang dihiah benang emas atau manik manik, lebar sekitar 6 cm dan panjang sekitar 95 cm sampai 140 cm.
Sebuah epek baru dapat dikenakan bila dilengkapi timang, semacam kepala ikat pinggang, pada umumnya berwarna dasar hitam, kadang ada yang berwarna dasar merah, biru atau hijau. Disesuaikan dengan baju yang dipakai.

ERI CANGKRING, bagian yang menonjol pada sisi atas ditepi sebuah warangka gaya Surakarta, Yogyakarta, Madura atau Bali, berbentuk menyudut tajam menonjol sekitar 0.5 cm dan tempatnya sejajar dengan tengah lobang searah dengan garis pesi keris.

ERI WADER, pamor yang menyerupai tulang ikan, sepintas seperti pamor Ron Genduru, bedanya lebih kurus dan tergolong pamor miring. Pembuatannya tergolong sukar dan karena dapat dirancang maka termasuk pamor rekan. Pamor ini tergolong pemilih dan dipercaya dapat menambah wibawa pemiliknya.

ESOTERI KERIS, ilmu yang memusatkan pada apa yang tidak tampak dari luar, membicarakan mengenai tuah, tanjeg, tayuh, khasiat, daya magis, manfaat, pengaruh, penunggu dan semacamnya. Terlepas dari benar atau tidaknya maka esoteri ini merupakan salah satu budaya per-kerisan dan dibicarakan juga dinegara lain dan kadang sering dibicarakan dari sudut agama.

GABILAHAN, sebutan orang Madura untuk warangka model Gayaman, khususnya bergaya Madura.

GADA TAPAN, KANGKENG KYAI, tombak pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Gada. Kini KK Gada Tapan dan KK Gada Wahana menjadi dua tombak pendamping pusaka KK Ageng Pleret.

GADA WAHANA, KANGJENG KYAI, puasa Kraton Jogya, berdapur Gada dengan hiasan sinarasah emas, berasal dari pemberian pendeta dari Pratiwagung pada Sri Sultan HAMENGKU BUWONO III.

GADING, bahan baku untuk warangka yang banyak jumlahnya, gading gajah afrika umumnya panjangnya mencapai 2 m dengan berat rata-rata 21 kg sedang gajah asia beratnya sekitar 19 kg dengan panjang rata-rata 160 cm saja. Gajah Sumatra gadingnya termasuk paling mahal dengan warna lebih putih dan keretakan tidak banyak, gajah Thailand agak kekuningan warna gadingnya dan keretakan agak banyak, sedang gajah Afrika banyak retak gadingnya. Sebagian pecinta keris menolak menggunakan warangka gading ini karena kekerasannya dapat membuat aus bilah keris dan merusak pamor, itulah sebabnya keris pusaka tidak ada yang diberi warangka gading.

GAJAH MANGLAR, KANGJENG KYAI, keris pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Gajah Manglar, warangka dari kayu Timoho, pendoknya dari emas bertahtakan intan berlian. Semula milik Sri Sultan HAMENGKU BUWONO I, diserahkan kepada putranya Pangeran Demang dan pada zaman Sultan HAMENGKU BUWONO V kembali ke Kraton.

GAJAH SINGA, nama salah satu jenis hiasan kinatah yang ditempatkan bagian bawah ganja. Permukaan yang tidak tertutup hiasan gajah singa dihiasi ornamen hiasan lain. Kinatah gajah singa diberikan karena keris tersebut telah berjasa membantu pemiliknya, terjadi pada pemerintahan Sultan Agung Anyokrokusumo. waktu itu didaerah Pati, Jawa Tengah bagian utara, terjadi pemberontakan yang dipimpin Adipati Pragola, sesudah pemberontakan berhasil dipadamkan maka Raja Mataram memberikan tanda kehormatan Kinatah Gajah Singa pada prajuritnya.

Semua keris para prajurit sampai perwira dikumpulkan dan diberi hiasan kinatah Gajah Singa kemudian dikembalikan lagi kepada yang punya, ini untuk peringatan Mataram memadamkan pemberontakan Pati karena Gajah Singa artinya perlambang angka tahun sesuai dengan candra sengkala, Gajah melambangkan angka 8 sedangkan Singa angka 5, curiga (keris) angka 5 dan tunggal melambangkan angka 1 dan karena candra sengkala (lambang angka tahun) selalu dibaca dari belakang maka yang dimaksud adalah 1558 kalender Jawa. Walau penghargaan kinatah Gajah Singa diberikan pada zaman Mataram tetapi ada juga keris buatan Majapahit, Tuban, Jenggala dan Singasari menggunakan hiasan itu.

GANA KIKIK, salah satu dapur keris lurus yang panjang bilahnya berukuran sedang, keris ini memakai gusen, ada-adanya tebal dan nyata, gandik keris ini diukir dengan bentuk srigala sedang melolong, kaki depan tegak sedang kaki belakang ditekuk. Ada yang menyebutnya dapur Kikik saja atau Naga Kikik, dapur ini tergolong populer dan banyak penggemarnya karena indah bentuknya dan tinggi mutunya.

GANDAR, adalah salah satu bagian dari warangka keris, dibuat dari kayu yang tidak terlalu kerasbentuknya bulat panjang dan pipih, kegunaannya untuk melindungi bilah keris, banyak gandar dilapisi selongsong logam berukir indah dan disebut pendok.

GANDAR IRAS, warangka yang menyatu dengan gandar , jadi seluruhnya dibuat dari satu bongkah kayu tanpa sambungan apapun. Warangka Gandar Iras selalu lebih mahal dari warangka biasa karena bahan kayu yang utuh dan cukup untuk membuat warangka ini sulit dicari dan banyak bahan terbuang dalam proses pembuatannya.

GANDAWISESA, KANGJENG KYAI, keris pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Naga Siluman, warangka dari kayu Trembalo dan pendok bertahta rajawarna. Keris ini buatan Penembahan Mangkurat dizaman pemerintahan Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V.

GANDIK, adalah bagian “raut muka” dari sebilah keris. Ada gandik polos, ada yang dilengkapi racikan lain. Letaknya tepat diatas sirah cecak. Bagian gandik ini hampir selalu berada dibagian depan keris, hanya pada beberapa dapur keris antara lain dapur “cengkrong” yang letaknya dibelakang dari bilah keris. Kata “gandik” dalam bahasa Jawa berarti batu penggilas yang bentuknya bulat panjang. Ukuran dan ketebalannya bermacam-macam.

GANJA, bagian bawah dari sebilah keris, seolah-olah merupakan alas atau dasar keris tersebut, pada bagian tengahnya ada lobang untuk memasukan bagian pesi. Bagian bilah dan bagian ganja dari sebilah keris merupakan kesatuan yang tak terpisahkan melambangkan kesatuan lingga dan yoni, ganja mewakili lambang yoni sedang bilahnya melambangkan lingga. Bentuknya sepintas mirip buntut cecak tanpa kaki, bagian depanya mirip kepala cecak disebut sirah cecak, begitu pula bagian perut dan ekornya , bagian “perut” ganja disebut Wetengan atau Gendok, sedang bagian “ekor” disebut buntut cecak. Ragam bentuk ganja ada beberapa macam, ganja Sebit Ron Tal, Wulung, Wilut, Dungkul, Kelap Lintah. Disemenanjung Melayu, Brunei, Serawak dan Sabah serta Riau disebut juga Aring, namun sering disebut ganja saja.

GANJA WULUNG, Ganja yang tidak berpamor, banyak pendapat emngapa kerisnya berpamor bagus sedangkan ganjanya tidak berpamor. Pertama, keris itu adalah keris yang bagus kemudian dibuatkan putran-nya (duplikat), bagian ganja keris yang bagus itu dilepas lalu dijadikan campuran bahan baku pembuatan keris duplikat, sedangkan keris aslinya dibuatkan ganja wulung. Kedua, pada jaman dulu banyak orang yang memahami ilmu keris terutama isoterinya, dengan hanya melihat bagian ganjanya yang tampak orang akan menduga keris itu berdapur apa, pamornya apa, dan apa tuahnya dengan demikian apabila orang tersebut telah tertebak apa tuah kerisnya dia merasa seperti “ditelanjangi” sehingga untuk menutupinya dia memesan ganja wulung. Ketiga karena ganjanya rusak dan diganti.

GANDRUNG, PELET, gambaran pada warangka kayu Timoho berupa bulatan besar tidak teratur dipermukaan, selain indah bertuah baik dan disenangi orang sekeliling, banyak dicari oleh Dalang.

GAYAMAN, nama salah satu bentuk warangka didaerah Surakarta dan Yogyakarta, mirip bentuk buah gayam, makanya disebut gayaman. Bentuk gayaman Yogyakarta agak beda dengan gayaman Surakarta, begitu pula gayaman Madura (gabilahan), warangka ini paling banyak dipakai orang karena lebih sederhana , ringkas ukurannya dan tidak mudah patah dan umum digunakan sehari-hari sebagai kelengkapan pakaian daerah.

GEDONG PUSAKA, bangunan khusus di keratom tempat penyimpan pusaka, hanya petugas khusus dan kerabat raja tertentu yang boleh masuk.

GENDOK, atau wetengan atau waduk adalah nama bagian tengah ganja, bentuknya menggembung bagaikan perut kenyang. Ditengah bagian gendok terdapat lubang untuk memasukan pesi. Sebagian orang menyebutnya wadukan.

GENYODIHARDJO, pandai keris dari Yogyakarta, kakak empu Jeno walau garapannya masih kalah dari empu Genyo.

GIRIREJO, KANGJENG KYAI, keris pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Carita luk 11, warangka dari kayu Timoho, pendok dari pendok slorok terbuat dari suasa, sedang seloroknya dari emas murni. Keris ini dibeli Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V dari abdi dalem bernama Bekel Wasadikara.

GRENENG, salah satu bagian keris yang merupakan bagian tepi dari punggung keris sebelah pangkal, bagian tepi bilah ini bentuknya menyerupai gerigi dengan ujung-ujung runcing. Bentuk variasi dari gerigi ini berbeda dari daerah satu ke yang lain tetapi bentuk dasarnya sama. Ada yang mengatakan bahwa bentuk greneng merupakan tandatangan sang empu karena setiap empu terutama bagian Ron Da selalu berbeda satu dengan lainnya.

GODONG ANDONG, salah satu dapur tombak bilah lurus dan bilahnya simetris, bentuknya mirip gadong andong, ditengah memakai ada-ada dari pangkal hingga ujung bilah, ricikan lain tidak ada , dapur ini banyak terdapat pada tombak kuno terutama buatan zaman Pajajaran dan Segaluh.

GODONG DADAP, salah satu dapur tombak lurus seperti daun dadap, lebar, simetris dan tipis. Ditengah bilah dari bawah sampai atas memakai ada-ada tipis, ricikannya yang lain tidak ada. Biasanya tombak ini berukuran kecil kadang disebut dapur Ron Dadap.

GODONG SEDAH, salah satu dapur tombak lurus berukuran kecil, menyerupai daun sirih, lebar ditengah pipih, simetris dan tipis, bagian tengah dari bawah ke ujung terdapat ada-ada, biasa disebut Ron Sedah.

GODONG PRING, salah satu dapur tombak lurus seperti daun bamby, simetris kiri dan kanan, bilahnya tipis, hampir tak ada ada-ada, pada bagian bawah ada lekukan landai yang berbentuk semacam pinggang, pamor ini tergolong populer dan banyak dijumpai.
GOLOK, salah satu jenis pedang sabet dan berat bobotnya, bentuknya agak beragam umumnya berbentuk lameng pendek bagian punggungnya cembung pada ujungnya, sedang bagian depannya lurus. Yang tajam hanya sisi depannya.

GOTHITE, mineral besi terdiri dari trioksida besi yang terikat air berwarna kekuningan, merah dan kecoklatan, rumus kimianya Fe2O3.H2O. besi ini kurang baik untuk bahan keris karena mudah keropos dan berpori.

GUMBOLO GENI, pamor yang menyerupai binatang kala atau ketonggeng dengan ekor mencuat keatas, pamor ini tergolong baik untuk menolak sesuatu yang tidak dikehendaki dan tergolong pemilih. Pamor ini selalu terletak di sor-soran.

GULING, EMPU, empu terkenal di zaman Mataram. Karya karyanya demikian indah. Tanda tandanya adalah, ukuran bilah lebih besar dari rata rata buatan Majapahit tapi lebih ramping, ganjanya melengkung, gulu melednya sempit sirah cecak berbentuk lonjong dan meruncing pada ujungnya, buntut urangnya berbentuk nguceng mati dan tidak pakai tunggakan, banyak keris karya Ki Empu Guling memakai Ganja Wulung.
Besi yang dipakai 2 rupa, yaitu hitam keabu-abuan dibagian tengah dan hitam legam dibagian pinggir bilah. Pamornya rumit dan halus, lembut dan padat. Penampilan keris secara keseluruhan memberi kesan gagah, berwibawa dan anggun. Kalau membuat kembang kacang bentuknya melingkar sekali, jalennya pendek tapi lambe gajahnya menonjol panjang. Sogokannya dangkal tapi panjang, janurnya berbentuk mirip lidi, terus tetap kecil sampai kebawah. Kalau membuat bagian Dha pada Ron Dha, lekukannya tergolong dangkal . jika tidak memakai kembang kacang maka gandiknya agak panjang dan tidak begitu miring.

GULU MELED, salah satu bagian dari ganja yang letaknya dibelakang sirah cecak, dibagian gulu meled ini, ukuran ganjanya menyempit dibandingkan dengan bagian depannya. Jadi mirip bagian leher seekor cicak.

GUNAWISESA, KANGJENG KYAI, pusaka Keraton Yogyakarta, berdapur Carita dengan bagian ganja bertahtakan intan. Warangkanya dari kayu Timoho dengan pendok emas rajawarna. Keris ini buatan empu keraton pada jaman pemerintahan Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V.

GUNUNGAN, nama salah satu dapur tombak yang bentuknya menyerupai gunungan wayang kulit. Tombak ini umumnya menyerupai gunungan wayang kulit, berbilah tipis dan lebar, selain ada-ada pada bagian sor-soran tombak ini tidak punya ricikan apapun.

GUTUK API, KANGJENG KYAI, keris pusaka keraton Yogyakarta, berdapur Jalak, warangkanya dari kayu Timaha, pendoknya jenis blewahan terbuat dari emas bertahtakan intan permata raja warna. semula milik Sri Sultan HAMENGKU BUWONO I diberikan ke Pangeran Adinegara, putranya, selanjutnya jatuh ketangan Temenggung Mertadiningrat dan dikembalikan ke keraton pada mas Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V.

GUSEN, adalah daerah sempit sepanjang tepi bilah keris atau tombak, daerah sempit itu yang dibatasi oleh tepi bilah yang tajam dengan garis lis-lisan.

GUNA, KYAI, empu terkenal yang hidup dijaman penjajahan Belanda, tinggal di Magetan, Madiun. Kerisnya berukuran panjang dan besar dan pada umumnya berdapur lurus. Karena dari bahan baja maka keris Kyai Guna terkenal amat kuat dan dapat melubangi kepingan logam, sampai saat ini keris buatan Kyai Guna masih populer didaerah Madiun dan Ponorogo dan sekitarnya. Banyak diantaranya tidak memakai bahan pamor, orang Madiun dan Jawa Timur menyebutnya keris pamor waja.

HARJAMULYA, KANGJENG KYAI, salah satu keris pusaka Kraton Yogyakarta berdapur Cengkrong, warangka dari kayu Timoho, pendok blewahan terbuat dari emas, dengan ukiran bahan gading. Keris ini didapat Sri Sultan Hamengku Buwono II dari “Kangjeng Gubermen” sewaktu Sultan ditawan di Penang.

HULU PEKAKAK, nama hulu keris terkenal disemenanjung Malaka, Riau, Jambi, Serawak, Brunei dan Sabah, terbuat dari kayu keras, gading atau perak. Bentuknya menyerupai kepala raksasa dengan mata besar dan hidung panjang yang distilir. Dipulau Jawa bentuk ini dijumpai juga didaerah Surakarta dan disebut Rajamala.

HULU BURUNG, nama salah satu jenis hulu keris berbentuk burung, bentuk ini sudah jarang dipakai namun dulu banyak dibuat orang di Jambi, Bangkinang, Riau dan Semenanjung Melayu serta Pathani (Thailand Selatan), terbuat dari bahan kayu yang keras, gading atau gigi ikan duyung, bahkan ada pula yang dari perak.

YASADIPURA II, pujangga terkenal Kraton Solo. Tahun 1814 beliau menulis Serat Centini bersama RM Ranggasutrasna dan RM Sastrodipura, membahas mengenai Pakem Keris dan Tombak Jawa dibawah koordinasi Paku Buwono V, pekerjaan ini selesai tahun 1823.

YOGAPATI, pamor yang oleh banyak penggemar keris dianggap buruk, pemiliknya akan sering dirundung malang, sehingga sebaiknya dilarung atau diserahkan ke Museum saja, pamor ini terletak di sor-soran dan tergolong pamor Tiban.

YONI, semacam daya atau kekuatan gaib yang menurut ahli esoteri dianggap sebagai kekuatan yang ada pada tuah keris. Ini menunjukan ketinggian ilmu empu yang membuat.

YUYU RUMPUNG, salah satu dapur keris lurus, ada 2 versi mengenai keris berdapur ini, yang pertama, bilahnya berukuran sedang, gandiknya panjang dan diatas gandik ada kembang kacangnya berukuran kecil. Yang kedua gandiknya berada dibelakang, panjang, bilahnya agak membungkuk, ganjanya kelap lintah. Biasanya dimiliki petani dan mempunyai tuah membantu menangkal serangan hama dan menyuburkan tanaman.

YASADIPURA II, pujangga terkenal Kraton Solo. Tahun 1814 beliau menulis Serat Centini bersama RM Ranggasutrasna dan RM Sastrodipura, membahas mengenai Pakem Keris dan Tombak Jawa dibawah koordinasi Paku Buwono V, pekerjaan ini selesai tahun 1823.

YOGAPATI, pamor yang oleh banyak penggemar keris dianggap buruk, pemiliknya akan sering dirundung malang, sehingga sebaiknya dilarung atau diserahkan ke Museum saja, pamor ini terletak di sor-soran dan tergolong pamor Tiban.

YONI, semacam daya atau kekuatan gaib yang menurut ahli esoteri dianggap sebagai kekuatan yang ada pada tuah keris. Ini menunjukan ketinggian ilmu empu yang membuat.

YUYU RUMPUNG, salah satu dapur keris lurus, ada 2 versi mengenai keris berdapur ini, yang pertama, bilahnya berukuran sedang, gandiknya panjang dan diatas gandik ada kembang kacangnya berukuran kecil. Yang kedua gandiknya berada dibelakang, panjang, bilahnya agak membungkuk, ganjanya kelap lintah. Biasanya dimiliki petani dan mempunyai tuah membantu menangkal serangan hama dan menyuburkan tanaman.

NABI SULAIMAN, nama pamor yang letaknya didaerah sor-soran, merupakan pamor titipan, pamor yang dibentuk kemudian setelah bilah keris selesai dikerjakan. Bentuk pamor menyerupai bintang segi enam, tuahnya baik terutama dalam keadaan darurat tetapi pamor ini pemilih dan katanya hanya raja atau keturunannya yang bisa memilikinya.

NAGA GAJAH, keris luk 7, gandik keris diukir kepala gajah lengkap dengan telinga dan belalai tetapi tanpa badan. Ricikan lain adalah sraweyan, ri pandan dan greneng. Kadang memakai gusen, selain itu tak ada ricikan lain. Keris ini tergolong langka, seandainya ada kemungkinan bikinan baru atau tangguh muda, adapun pecinta keris menyebutnya Naga Liman.

Baca Juga : BAG. I dan BAG. II

sumber