Home » » KERIS BLARAK SINERET PEGANGAN PARA CALEG

KERIS BLARAK SINERET PEGANGAN PARA CALEG

Written By Ratiz On on Selasa, 04 September 2012 | 21.44


Keris Blarak Sineret untuk Para Caleg

DI pendapa Kabupaten Wonogiri, Minggu (7/3) dan Senin (8/3) kemarin digelar pameran tosan aji dan bowo raos (sarasehan) tentang pusaka dan kejawen. Ada banyak macam jenis dan kegunaan keris dengan berbagai nama dipamerkan. Berikut petikan wawancara dengan Drs Pranoto MM, soal perkerisan beserta seluk beluknya.

Apa maksud dan tujuan pameran tosan aji ini digelar?

Ada muatan multidimensional dalam penyelenggaraan pameran tosan aji dan sarasehan tentang pusaka dan kejawen. Paling tidak melalui wahana ini, wawasan masyarakat semakin terbuka untuk memahami keberadaan tosan aji. Sebab itu merupakan benda peninggalan bersejarah yang monumental dari para empu, yang perlu dilestarikan dan juga wajib dipahami keberadaannya baik dari sisi lahiriah maupun dari segi magis.

Maksudnya bagaimana?

Tosan aji itu ada yang berwujud keris, tombak, pedang, cundrik, dan lain-lain. Itu semua dibuat oleh para empu yang merupakan sosok yang suka tirakat. Ketika membuat keris, sang empu membaca mantra sakti dan berdoa memohon kepada Tuhan, agar keris yang dibuatnya memiliki ''isi''.

Ragam tuah keris pun beraneka macam. Keris yang dibuat untuk pegangan petani dan peternak, disebut keris Kebo Lajer. Lain lagi untuk pegangan pemimpin, dibuat dengan tuah kewibawaan agar disegani, yang disebut keris Singobarong, Nogososro, atau Sabuk Inten.

Untuk figur caleg wakil rakyat juga tersedia khusus, yang disebut keris Blarak Ngirit atau Blarak Sineret, yang bertuah untuk menghirup dukungan massa. Bagi pedagang, empu membuat keris-keris pusaka yang bertuah kerezekian, seperti keris Pedaringan Kebak, Pari Jotho, Bonang Serenteng, Banyu Mambek, dan Udan Emas.

Pegangan bagi yang biasa menolong persalinan juga ada, seperti keris Brojol. Untuk dalang disebut keris Pandawa Cinarita. Empu juga membuat keris beraura keselamatan. Seperti keris Singkir Geni dan Singkir Dahono, yang bertuah melindungi keselamatan dari ancaman bahaya kebakaran. Adapun Singkir Angin, menghindarkan dari ancaman bencana lisus dan topan.

Tentang sarasehan?

Sarasehan kemarin itu untuk memahamkan masyarakat terhadap pusaka tosan aji dari berbagai sisi dan dimensi. Termasuk paham bagaimana pemilik harus merawatnya. Juga teknik ''pengisian'' keris atau pusaka yang semula kosong, dengan cara meminta ridha Tuhan. Ini seperti para ulama mengisi asmak pada batu akik, sabuk, atau bambu runcing yang dipakai para pejuang 45 melawan Belanda dulu. (Bambang Pur-49s)

sumber