Home » » GENDANG KHAS SUKU KAMORO, PAKAI PEREKAT DARI DARAH!

GENDANG KHAS SUKU KAMORO, PAKAI PEREKAT DARI DARAH!

Written By Ratiz On on Senin, 14 Januari 2013 | 19.19


Tifa, alat musik berupa gendang kecil memainkan peran penting dalam upacara adat suku-suku pesisir Papua. Di Suku Kamoro, tifa dibuat dari kayu pilihan. Dibungkus kulit biawak dan direkatkan oleh darah! 

Perkampungan suku Kamoro di Kaugapu hari ini riuh oleh tepukan tifa yang membahana, saling bersahut-sahutan, dan nyaring terdengar. Seakan turut menyemangati para wanita suku Kamoro yang tengah asik menarikan Tari Semut.

Matahari yang menyengat tidak menghalangi para pria Kamoro untuk menabuhkan tifa-tifa mereka. Tifa yang berukuran beberapa puluh sentimeter ini adalah salah satu benda wajib dalam ritual tradisi suku penguasa muara-muara selatan Timika ini.

Di mainkan saat acara adat ataupun hari-hari besar agama Kristen. Tifa Kamoro menjadi menarik sebab dibuat dari kayu waru pilihan. Kayu kemudian diukir oleh para pria yang berperan sebagain Marawore atau pengukir dalam tradisi masyarakat Kamoro.

Ukiran yang polanya telah diturunkan sejak nenek moyang para suku pesisir Timika ini kebanyakan bermotif manusia. Para pria suku Kamoro kemudian berburu biawak-biawak besar, untuk diambil kulitnya dan dikeringkan.

Saat kering bagian tubuh hewan melata ini akan menjadi pelengkap tabuhan Tifa mereka nantinya. Suku Kamoro percaya, kulit biawak adalah media tabuhan yang dapat menghasilkan suara terbaik.

Saat kayu waru telah selesai diukir dan kulit biawak telah selesai dikeringkan, pria Kamoro akan memulai ritual untuk menuntaskan proses pembuatan tifa mereka.

Dari lengan mereka yang telah di ikat untuk menampung darah, sebuah luka kecil mereka torehkan dan darah yang mengalir diambil dengan menggunakan kulit siput dan di campurkan dengan kapur. Hasil campuran ini kemudian dioleskan pada sisi kulit biawak dan kayu waru sebagai media perekat.

Tifa adalah wujud gengsi dan kebanggaan para pria, tak ada wanita dalam suku Kamoro yang memainkan tifa. Tifa diperlakukan layaknya anak kesayangan, dijaga tetap bersih dan rajin mereka jemur untuk menjaga kualitas kulit biawak yang merekat pada salah satu ujungnya.

Semakin bagus kualitasnya, semakin nyaring dan membahana suara yang dihasilkan saat di tabuh. Saat ini, ritual pembuatan Tifa dengan media darah telah banyak ditinggalkan berganti dengan penggunaan lem kayu.

Tapi apapun medianya tifa tetaplah tifa, tak ada yang bisa menggeser posisi tetabuhan ini dari kultur masyarakat suku Kamoro sebagai si penyemangat pesta.

sumber